Situs Cagar Budaya Warloka



Menhir Batu Meja (Dolmen)

Kampung Warloka dan sekitarnya ditinjau dari segi geomorfologi merupakan daerah perbukitan dengan sedikit dataran. Daerah tersebut terletak di pantai barat Pulau Flores dan dapat dibagi menjadi tiga zone (daerah), yaitu daerah pantai, daerah lereng perbukitan dan daerah puncak bukit. Untuk mencapai lokasi kawasan Warloka dapat ditempuh melalui jalur darat dan laut dengan perbandingan jalur darat membutuhkan waktu yang lebih panjang daripada jalur laut.  Dari pelabuhan Labuan Bajo perjalanan dapat ditempuh ± selama 1,5 jam dengan menggunakan boat. Dari pelabuhan Warloka perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati perumahan penduduk.

Batu Meja dan Batu Balok ditemukan di atas bukit pantai Warloka yang menghadap ke arah Pulau Rinca di bagian barat Kabupaten Manggarai Barat, sekitar 30 km dari kota Labuan Bajo. 

Batu Meja yang ditemukan adalah sebuah Dolmen. Dolmen Batu Meja sebagai tempat peletakan sesajian yang akan dipersembahkan kepada arwah nenek moyang. Di bawah dolmen ini biasanya ditemukan kuburan batu.  

Batu Balok yang ditemukan, baik yang posisi tegak maupun yang posisi melintang di atas tanah Warloka adalah Menhir. Sebuah tugu batu yang tegak sebagai tempat pemujaan terhadap arwah leluhur. Menhir dapat ditemukan di sebagian wilayah indonesia khususnya di sumatera, sulawesi tengah dan kalimantan dan di berbagai belahan dunia.

Pada tahun 1981 situs Batu Meja dan Batu Balok pernah diteliti oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Penelitian tersebut berhasil menemukan menhir, dolmen, alat batu, gerabah dan keramik. Adanya penemuan tersebut membuktikan Desa Warloka merupakan situs permukiman dan pemujaan pada masa prasejarah hingga masa setelahnya. 

Di sekitar pemukiman warga juga ditemukan menhir berbentuk persegi empat, segi lima, dan segi enam, segi tujuh. segi delapan yang ditancap dan melintang di atas tanah dalam jumlah yang banyak. Batu Balok ini berada dalam wilayah seluas 3 km2. Keempat sisinya masing-masing licin bagaikan diskap. Bagian atas masing-masing berbentuk seperti ujung sebuah tiang kayu persegi empat, segi lima, dan segi enam, segi tujuh, dan segi delapan.

Tim peneliti dari Unversitas Gajah Mada Yogyakarta juga pernah melakukan penelitian di Desa Warloka. Penelitian tersebut berhasil menemukan empat tulang manusia modern tipe homo sapiens yang terdiri dari tiga tulang manusia dewasa dan satu tulang anak kecil. Juga ditemukan berbagai benda peninggalan lain seperti gelang, rantai perunggu, mangkok, batu nisan, tulang-tulang binatang serta alat-alat pada zaman sejarah (http://dion-bata.blogspot.com).


Konsentrasi tinggalan purbakala di Kawasan Warloka tersebar di beberapa lokasi, ada di tepi laut, areal pemukiman penduduk, sampai di daerah-daerah perbukitan. Konsentrasi I, berupa menhir terletak di tepi laut, tepatnya di areal Puskesmas  Pembantu Komodo. Konsentrasi I berjarak ± 250 m dari Pelabuhan Warloka. Konsentrasi II, berupa menhir terdapat di areal pemukiman berjarak ± 500 m dari konsentrasi I. Konsentrasi III, berupa menhir terletak di areal bukit kecil, berjarak ± 200 m dari konsentrasi II. Konsentrasi IV terletak di puncak sebuah bukit berjarak ± 1.5 km dari konsentrasi I dengan harus melalui jalan yang terjal. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat bahwa masih banyak lagi persebaran menhir-menhir di daerah Warloka yang tersebar di puncak-puncak bukit.


Lokasi situs terletak di daerah pantai, dengan jarak ± 15 meter dari bibir pantai. Di tempat ini terdapat 5 (lima) menhir yang masih berdiri tegak. Dua menhir dalam kondisi utuh dan 3 lagi dalam kondisi terpotong. Satu menhir terletak  di depan bangunan puskesmas,  dan 4 menhir berada di samping kanan bangunan puskesmas. Kondisi situs kurang terawat karena penuh ditumbuhi oleh semak-semak belukar. 

Pada tahun 1960 ditemukan banyak harta karum terpendam dalam kuburan di Desa Warloka. Terkait dengan beradanya benda-benda tersebut, muncul dua tafsiran. Versi pertama, pionir kerajaan China pernah menguasai perdagangan rempah-rempah untuk Indonesia Timur. Versi kedua, tempat ini adalah tempat bersenang-senang saat waktu luang Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-14. 

Terkait hubungannya dengan Kerajaan Majapahit terutama Raja Hayam Wuruk, beberapa temuan asali dari Warloka adalah tempat Wuruk Loka (tempat milik atau kepunyaan Wuruk). Sementara di Warloka ditemukan benda-benda peninggalan tempo dulu seperti kalung dari emas, gelang-gelang dan piring-piring dari porselin. Ada porselen orang China dulu kala baik dari Dinasti Sung 960-1279), Dinasti Yun (1260-1386), dan Dinasti Ming (1368-1644).

Berdasarkan budaya Megalitikum, Warloka diperkuat dengan temuan tim Arkeolog dari UGM Yogyakarta dan sejumlah Arkeolog Australia yang berhasil menemukan situs manusia purba di Desa Warloka. Tidak hanya situs manusia purba ditemukan pula sejumlah artefak kuno yang diduga berasal dari China, seperti piring siladon, keramik dan kalung perunggu. Para arkeolog menemukan 4 kerangka manusia purba modern atau homo sapiens. Dari 4 kerangka yang ditemukan, 3 di antaranya adalah kerangka manusia dewasa, satu kerangka lain adalah anak kecil. Empat kerangka manusia itu diperkirakan ditemukan pada abad ke-10 hingga abad 17 masehi dan sekitar zaman Majapahit, yaitu zaman budaya megalik atau austro melanosoid. Ketua peneliti Tular menyampaikan 9 situs manusia purba, 6 di antaranya belum diteliti.

Pada tahun 1968 ada satu tim ekspedisi peneliti dari China yang dipandu oleh seseorang asal Singapura datang ke Warloka. Tim tersebut menjelaskan mereka datang hendak mencari dua benda harta karun asal China yg terbuat dari emas murni yang dahulu dibawa oleh kapal dagang dari Nusantara. Konon dua benda harta karun itu sesuai dengan petunjuk historis mereka terdampar di Warloka, Flores.

Kedua benda itu adalah sebuah jam dinding emas yang tidak berangka, akan muncul angkanya setiap saat tertentu jika tepat menunjukkan jam tertentu dan Sebuah Patung Anjing duduk Emas yang satu paket dengan jam dinding tersebut. Sesampai di Warloka mereka dipandu oleh orang lokal dan berhasil menemukan tempat dua harta karun itu disembunyikan disebuah gua yang angker. Lalu rombongan itu mencoba masuk ke dalam gua dengan menggunakan lampu Strongken/Lampu Gas. Namun akhirnya mereka batalkan untuk masuk terus ke dalam gua lebih jauh karena sekonyong-konyong ada sorotan sinar terang dan kekuatan besar dari dalam gua yg mengancam keselamatan jiwa semua orang yang hendak masuk ke gua itu. Merekapun mundur lagi. Konon dua benda harta Karun tersebut memang berada di dalam gua itu, tetapi sudah dikawal oleh binatang buas, yaitu ular Naga yang ganas. Salah seorang warga lokal anggota tim itu dulu, saat ini masih hidup walaupun sudah tua sekali. Dan Kapal dagang Nusantara yang memuat barang-barang itu yang saat itu juga berinteraksi dengan Kerajaan Gurung Talo. Itulah Kapal milik Sawerigading, raja Luwu yang selalu saya sebutkan. Kapal itu karam dan tenggelam di Selat Molo diduga karena selain dilawan oleh kekuatan gaib lokal (Kerajaan Gurung Talo) juga diduga Sawerigading kualat karena dosanya sendiri di Tana Luwu. Dosanya adalah dia jatuh cinta dengan Saudari kembarnya sendiri bernama La Mada Remeng. Untuk mencegah hubungan mereka berlanjut saudari kembarnya itu meminta Sawerigading untuk pergi membeli barang antik yg sangat mahal dan sulit didapat ke negeri China dengan menggunakan sebuah Kapal yang terbuat hanya dari sebatang Pohon. Namun ternyata semua syarat yang serba sangat sulit yang diminta oleh La Mada Remeng itu semuanya dapat dilakukan oleh Sawerigading. Hal itu membuat saudari kembarnya itu ketakutan maka iapun berdoa agar Sawerigading tidak bisa pulang kampung ke Palopo, Luwu. (Sumber: Andi Kaso Bustaman,SH Sekretaris istana Kerajaan Luwu di Istana La Galigo, Palopo, Luwu, Sulawesi Selatan tahun 2004.


Menhir: Batu Andesit

Ditemukan menhir yang tertancap dalam tanah dalam kondisi utuh dan masih berdiri kokoh. Ukuran batu tersebut, tinggi 185 cm dari permukaan tanah dan lebar penampang atas 30 cm. Terbuat dari batu andesit. Menhir ini merupakan peninggalan zaman prasejarah. Telah diinventaris 16 Juli tahun 2004.


Batu Andesit

Menhir dalam posisi berdiri, dengan sebagian bagian tertancap dalam tanah. Menhir terdiri atas bidang-bidang yang tidak beraturan, polos tanpa hiasan. Ukurannya, tinggi 163 cm di atas permukaan tanah, lebar penampang atas 28 cm. Batu ini merupakan peninggalan zaman prasejarah. Telah diinventaris pada 16 Juli 2021.


Menhir: Batu Andesit

Menhir dalam posisi berdiri, sebagiannya tertancap dalam tanah dalam kondisi terpotong. Tingginya 24 cm dan lebar penampang atas 29 cm. Menhir terdiri atas bidang-bidang  yang tidak beraturan, polos tanpa hiasan. Menhir ini merupakan peninggalan zaman prasejarah. Telah diinventaris pada tanggal 16 Juli 2003

Menhir Batu Andesit

Menhir dalam posisi berdiri, sebagiannya masih tertancap dalam kondisi terpotong. Tinggi batu andesit 20 cm di atas permukaan tanah dan lebar 31 cm. Menhir terdiri atas bidang-bidang yang tidak beraturan, polos tanpa hiasan. Diinventaris pada tanggal 16 Juli 2005. Batu Andesit merupakan peninggalan prasejarah.


Menhir Batu Meja

Situs Watu Meja hanya terdapat kampung Warloka Desa Warloka Pesisir Kabupaten Manggarai Barat. Watu Meja tersebut merupakan situs peninggalan zaman prasejarah, yaitu pada zaman batu megalitikum. Letaknya sangat trategis, yaitu di Puncak Bukit Kampung Warloka. Dari atas puncak, kita dapat menikmati panorama alam yang indah. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan