Gereja Paroki Roh Kudus Labuan Bajo

 Gereja Roh Kudus Labuan Bajo

Secara geografis Paroki Roh Kudus Labuan Bajo terletak di Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, bagian barat berbatasan dengan Selat Sape, Bagian Timur berbatasan dengan paroki Wangkung-Boleng, Bagian Utara berbatasan dengan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Kesambi serta Bagian Selatan berbatasan dengan Paroki Dalong dan Paroki Sokrutung.

Sejarah Berdiri Paroki Roh Kudus Labuan Bajo

Menurut Catalogues tahun 2000, Paroki Roh Kudus Labuan Bajo berdiri pada tahun 1955 bersamaan dengan Paroki Wangkung—Boleng yang dilayani oleh P. Victor Stevko, SVD Pastor Paroki Wangkung Boleng, Tahun 1977 diresmikan menjadi Paroki Roh Kudus Labuan Bajo dan Pastor Parokinya adalah P. Yohanes Djuang Somi, SVD.

 

Pendiri Paroki Roh Kudus Labuan Bajo 

Paroki Roh Kudus Labuan Bajo didirikan atas perjuangan dan Kerjasama Pastor dan Tokoh Umat. Atas perjuangan Pater Victor Stevko, SVD dan Tokoh Umat puji tuhan, mendapat rekomendasi dari Yang Mulia Bapak Uskup Vitalis Djebarus, SVD

 

Status Sebelum Paroki

Sebelum Labuan Bajo menjadi Paroki, diawali rencana-rencana, di antaranya tahun 1925, P. Frans Eickman, SVD dibangun Kapela untuk Rumah Doa di Labuan Bajo, untuk melayani umat yang ada dan para transmigrasi lokal dari Rekas, Nuri, Senge yang tinggal di Duli/Lancang.

 

Alasan didirikan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo

Paroki Roh Kudus Labuan Bajo didirikan atas alasan luas wilayah administrasi dan pelayanan umat. Wilayah Pastor Paroki Wangkung–Boleng mencakupi wilayah Hamente Nggorang (Labuan Bajo) dan kunjungan berkala dari Pastor Paroki Rekas untuk Hamente Mburak (Sok Rutung dan Kenari) di mana wilayah Paroki Wangkung sangat luas dan demikian juga wilayah Paroki Rekas sangat luas. Pada tahun 1977 umat Katolik di Labuan Bajo sudah semakin berkembang, dan orang-orang Kempo semakin banyak yang transmigrasi lokal ke Wilayah Mburak. Sehingga, pada tahun 1977 diresmikan menjadi Paroki dengan wilayah pelayanannya, yaitu Labuan Bajo, Longgo, Dalong, Nggorang, Roang, Sok Rutung, Benteng, Kenari/Mbuhung, Roang Keka, Cumbi, dengan tujuan untuk mendekatkan pelayanan Rohani bagi umat Transmigrasi lokal tersebut.

 

Tokoh Pendukung

Tokoh-tokoh yang berpengaruh besar dalam pendirian paroki, yaitu Dalu Nggorang (Bapak Haji Isaka atas permintaan P. Victor Stevko, SVD) memberikan Tanah untuk Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, kepada Pemerintah setempat. Selanjutnya, Camat (Bapak Gabriel Gampur) menyerahkan tanah ini untuk Paroki dan beberapa saksi-saksi.

 

Kondisi Awal Labuan Bajo

Labuan Bajo terdiri dari banyak suku dengan adat istiadat, Bahasa, dan agama yang berbeda-beda. Suku-suku yang merupakan penduduk asli menganut agama katolik dan Islam. Selain itu, ada juga para pendatang yang sudah menetap di Labuan Lajo, seperti suku Bajoe, Bonerate, Butung, dan Selayar. Mereka hidup berdampingan membaur secara damai dan akrab sebagai saudara  dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Labuan Bajo alamnya indah dan kekayaan lautnya juga melimpah menjadi kawasaan strategi dan menjadi incaran pendatang, seperi Bima, Larantuka, Bonerate, Makasar dan lain-lain. Mereka datang mencari nafkah mengadu nasib menyambung hidup dengan menyelam mencari kerang mutiara selain menangkap ikan. Kehadiran para pendatang umumnya diterima baik oleh penduduk asli Labuan Bajo. Orang katolik pertama di Labuan Bajo adalah orang Larantuka. Pada umumnya termasuk orang keras dan berani berterus terang dalam tutur kata dan perbuatannya mereka berani untuk menyelam dan naik pohon lontar yang tinggi untuk mengiris tuak putih yang selanjutnya diolah menjadi sopi lontar. Walaupun tampaknya keras, berani, dan berterus terang namun mereka memiliki kehalusan budi, cinta kasih, dan persahabatan yang sering diungkapkan dengan cara-cara yang agak kasar menurut pandangan orang-orang asli. Kehadiran orang-orang dari Larantuka selain sebagai penyelam, juga membawa misi tersendiri dalam penyebaran ajaran agama Katolik di Labuan bajo.

 

Awal karya misi 1912-1920

Misionaris pertama yang mengunjungi orang Katolik asal Larantuka di Labuan Bajo adalah Pastor Engbers, Sj. Selain merayakan ekaristi kudus bersama beberapa orang Katolik yang pada waktu itu bisa dihitung dengan jari. Misionaris ini juga berencana membuka sekolah rakyat sebagai tempat untuk berkumpul selain dan tempat belajarnya anak-anak pada masa itu. Pada hari Jumat, tanggal 12 januari 1912 secara resmi dibuka sekolah rakyat pertama diwilayah Barat Manggarai dengan nama Sekolah Rakyat (SR) Labuan Bajo. Kehadiran sekolah ini merupakan langkah awal karya misi di Labuan Bajo. Murid yang pertama pada saat itu adalah anak-anak Dalu dan Gelarang dari Kempo, Bajo, Wontong, Welak, Boleng, Nggorang, Matawae dan Mburak. Dengan dibukanya sekolah rakyat ini, para guru pun didatangkan dari larantuka seperti guru Wolo, guru Goris Fernandez yang dibantu oleh guru agama (pemimpin doa) seperti Om Begu, Om Klezang, dan Om Ritha sampai tahun 1973. Sejak tahun 1914, wilayah misi Manggarai dialihkan penggembalaannya dari serikat Jesuit ke SVD. Tahun 1917 Pastor Wilem Back, SVD selaku Inspektur sekolah rakyat berkunjung ke Labuan Bajo dan melakukan perayan ekaristi kudus di gedung sekolah bersama Keluarga Katolik yang ada. Pada hari rabu, tanggal 5 september 1917, usai misa Kudus Pastor Willem Back  SVD, membaptis 6 orang umat. Keenam orang ini merupakan lahan perdana benih iman Katolik yang dibenamkan di bumi Labuan Bajo, Manggarai barat, umat perdana ini, yaitu

  • DAMIANUS TIMOSUGI, Seorang Dewasa Keturunan Jepang.

  • YOANA FLORIS DAN ROFINUS MANUEL, 2 orang anak dari keluarga Larantuka

  • ANDERAS HADANIA, FELICIA DAN YOSEF, 3 orang anak dari keluarga Bonerate

Karena Labuan Bajo pada waktu itu bagian dari wilayah misi Rekas, maka keenam umat di atas terdaftar juga di buku Stambook Rekas pada nomor induk  (nomor urut ) 5, 6, 7, 8, 9, 10.

 

Perkembangan Kapela 1920-1940

Uskup dan Vikaris Apostolik MGR. X. VERSTRALEN, SVD Tahun 1923 mengunjungi wilayah misi Labuan Bajo. Pada tahun itu, umat pertama menjadi 32 orang. Sejak tahun 1924 rekas menjadi pusat wilayah misi Manggarai Barat, karena itu dalam rentangan waktu di atas dimulai dirancangkan pembangunan kapela untuk rumah doa di Labuan bajo. Untuk ini secara bergantian 11 (sebelas) orang Pastor Misionaris diatur kunjungannya ke Labuan bajo yang datang dari Rekas melalui kampong Longgo sebagai tempat singgahan dan tempat nginap di Labuan Bajo. Iman katolik terus menerus mengembang dan membuahkan hasil. Pertumbuhan dan perkembangan ini menggairahkan dan sekitarnya. Kunjungan pastor ke Labuan bajo yang diatur dari Rekas mengingat rekas menjadi pusat karya misi Manggarai Barat. Tahun 1925 Pastor Paroki Rekas FRANS EICKMAN, SVD mulai secara serius merancangkan pembangunan kapela sebagai rumah oleh para tukang, seperti Br. Isfridus, SVD Om Balawa, Om Yosef Ritha. Akhirnya pada tahun 1930 berdirilah kapela Labuan Bajo dengan pelindungnya Roh Kudus karena proses pembangunan diyakin atas dorongan roh kudus melalui keluarga-keluarga katolik di Labuan Bajo dalam kordinasi dengan Pater Frans Eickman SVD bersama tukang-tukangnya. Selanjutnya PATER THEO TOLEN, SVD pengganti Pater Frans Eickman, SVD pada tahun 1931 membeli rumah milik Daeng Baso dan tanahnya pua Siti sebagai Pastoran sementara. Rumah itu adalah rumah rakyat yang sangat sederhana, rumah panggung yang berlokasi jalan masuk pelabuahan Ferry Labuan Lajo (wilayah ASDP sekarang). Tahun 1977 tanah tersebut diserahkan kepada Pemda Manggarai untuk dimanfaatkan bagi kepentingan daerah pelabuhan. Secara keseluruhan Gereja manggarai berkembang dan paroki-paroki pun berkembang sehingga Pastor Paroki Rekas pun bergantian dari Pater Frans Eickman SVD tahun 1924-1931, Pater Theo Tolen 1931-1938, Pater Jack Geeraeds, SVD tahun 1938- 1940 dan seterusnya oleh Pater Yoseph Van Hoef, SVD, Pater Yan Djuang, SVD dan Pater Gabriel Mite, SVD.  

 

Pemberdayaan Awam 1940-1955

Dalam rentang waktu ini wilayah misi Rekas dengan stasi mengalami krisis gembala umat dengan diinternirnya para misionaris Belanda ke Pare-Pare Sulawesi. Di sana mereka ditawan, malah ada yang meninggal. Situasi ini menggerakan hati misionaris pribumi dan awam untuk melayani penerimaan sakramen permandian dan pernikahan sesuai adat istiadat Gereja Katolik yang kemudian dikukuhkan kembali dengan berkat iman. Adapun Rasul Awam yang dikuasakan untuk itu adalah

  • Untuk menerimakan pernikahan: Bapak Yosef Djandu (masih hidup) Bapak Yosef Kolong (almahrum), Bapak Bato Beribe (Almahrum) Bapak Alo Abur (Almahrum).

  • Untuk menerima permandian: Bapak Mikael Ndaka (Almahrum), Bapak Mateus Solo (Almahrum), Bapak Anton Antong (Almahrum), dan Bapak Yosef Rumpa (Almahrum).

Menurut buku Catalogus 2000, Labuan Bajo telah berdiri sebagai Paroki tahun 1955 bersama dengan Paroki Wangkung-Boleng. Persoalan pokok pada waktu itu adalah kekurangan tenaga Imam, sehingga Labuan Bajo dilayani oleh Pastor Paroki Wangkung, yang dibuktikan dengan adanya buku Stembook tersendiri wilayah Nggorang, wilayah Mburak, dan masih terdokumentasi di Wangkung-Boleng sampai tahun 1977. Upaya lain dari Pater Theo Tolen, SVD di Rekas adalah mengajak orang Nuri Rekas dan Senge untuk bertransmigrasi kewilayah Labuan Bajo. Ajakan dan usaha ini berhasil pada tahun 1949 orang Rekas dan Nuri bertrasmigrasi ke Duli dan tahun 1957 ke Lancang dan mulai menetap di sana. Transmigran lokal spontan itu menambah kekuatan bagi Gereja Katolik untuk membangun dirinya. Setiap hari minggu bila ada kunjungan imam di Labuan Bajo, kebiasaan dari Rekas untuk menghadiri misa tetap dibawanya kelancang dengan demikian ruangan Kapela Labuan Bajo terisi dengan umat.

 

Persiapan Pembentukan Paroki: 1955-1977

Dalam periode ini Labuan Bajo masih dilayani oleh Pastor Paroki Wangkung-Boleng. Kunjungan Pastoral yang dilakasanakan oleh Pastor Paroki Wangkung kala itu diatur sesuai wilayah Hamente, yaitu : wilayah Nggorang untuk stasi Labuan Bajo wilayah Hamente Mburak di Sokrutung, wilayah Hamente Warloka di Kenari, sedangkan Longgo merupakan wilayah penghubung antara wilayah Paroki Rekas ke-3 wilayah Hamente di atas, apabila kunjungan diatur dari Rekas. Pastor Paroki Wangkung yang secara berkala mengadakan kunjungan ke Labuan Bajo berturut-turut adalah Pater Jack Geerades, SVD, Pater Vicktor Steko, SVD, sedangkan dari Paroki Rekas oleh Pater Yosef Van Hoef, SVD. Umat Katolik dalam wilayah Nggorang, Mburak dan Warloka dipengaruhi oleh budaya Kempo, karena kebanyakan umat berasal dari Paroki Rekas /Kempo seperti wilayah Labuan Bajo yakni umat dari Nuri, Rekas, dan Senge, ditambah dari Tebedo-Boleng. Wilayah Mburak umat dari Tando, Longgo, Langgo, Mbere, Rangga Watu dan wilayah Warloka umat dari Mbuhung, Lokot/Mejer, Roe/Langgo dan Matawae. Dalam situasi apapun yang dihadapi, segala cara dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran cinta kasih, kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini pendidikan mendapat tekanan utama. Untuk ini diutuskan para guru katoliK di sekolah-sekolah dalam 3 (tiga) wilayah Hamente di atas dengan tidak membedakan Sekolah Swasta Katolik atau Sekolah Negeri walaupun para guru tersebut ditugaskan sebagai pegawai Negeri Sipil. Guru beragama katolik cukup dalam menyebarkan iman katolik, terutama dalam cara hidupnya mendampingi pastor dalam karya pastoralnya. Agar kegiatan penyebaran agama terencana dan terkoordinasi dengan baik, maka dibukalah Sekolah Rakyat Longgo tahun 1952, SDK Kenari, SDK Wae Medu 1967, SDK Sok Rutung dan SMP swasta yang dibangun oleh yayasan awam Katolik, yaitu SMP Tanjung Harapan. Kegiatan para guru dalam pengabdiannya berjiwa Katolik karena mereka beragama Katolik. Tahun 1973 khusus wilayah (Calon Paroki Defenitif) Labuan Bajo ditugaskan oleh Sukma Pusat Ruteng seorang guru katekis, yaitu Bapak Simon Selman, BA, Jebolan PAK Ruteng tahun 1972 untuk membantu kegiatan Pastoral kateketis baik di sekolah maupun di kelompok bersama Majelis Gereja dan Ketua Kelompok/Guru Agama di Desa. Tahun 1975 majelis Gereja diubah menjadi Dewan Pastoral Paroki sehingga petugas Pastoral lebih banyak sesuai pembagian tugasnya masing-masing, dalam koordinasi seorang katekis. Dengan demikian katekis berkerja dalam tim bersama yang lain, lebih berhasil daripada kerja sendiri. Tahun 1973 sampai dengan 1977 adalah rentang waktu persiapan Labuan Bajo menuju Paroki mandiri. Segala kebutuhan liturgi berupa air anggur hostia dibelanjakan sendiri dengan menggunakan uang kolekte waktu misa pada hari minggu dan pada setiap ibadah hari minggu tanpa Iman walaupun hanya sedikit. Akhir pada tahun 1977 tempatnya bulan Februari 1977 Pater Yohanes Djuang, SVD ditetapkan oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD sebagai Pastor Paroki Roh Kudus Labuan Bajo yang pertama sehingga Pastor Paroki Wangkung-Boleng diringankan dari beban tugas pelayanan ke Labuan Bajo.

 

Pertumbuhan dan Perkembangan Paroki Roh Kudus: 1977 s.d Sekarang

Sejak semula Roh Kudus adalah pelindung kapela Labuan Bajo yang dibangun tahun 1930 (sekarang Kapela Stella Maris-Labuan Bajo). Umat Labuan Bajo memilih Roh Kudus sebagai pelindung Paroki, mengingat pula Labuan Bajo sekitarnya terdiri dari umat dari berbagai suku dan tempat asal yang berbeda, berkumpul jadi satu berkat karya Roh Kudus.

 

Era P. Yohanes Djuang 1977—1984

Sebagai Pastor Paroki yang pertama Pater Yohnes Djuang SVD, mulai menata kehidupan berparoki pada Umat Labuan Bajo yang diawali dengan menerapkan program Gereja berdikari. Program ini dijabarkan dalam bentuk berdikari dalam bidang personal finasial pembangunan fisik dan pendidikan. Di bidang personal tenaga awam dioptimalkan perannya melalui persiapan-persiapan yang memadai. Para ketua kelompok pendamping katakese Umat diberikan latihan dinunang dibawah pimpinan KOMKAT keuskupan Ruteng yang selanjutnya disebut Pembina katakese umat. Selain itu pembagian homili kepada kaum awam yang terlatih diberikan tangung jawab setiap perayan hari minggu dan pesta-pesta besar seperti Natal, Paska dan Pentekosta. Awam tampil dibimbar untuk memimpin ibadat sabda tanpa imam dan untuk homili. Dalam bidang finansial, digalakkan peningkatan kewajiban Umat, berupa derma tahunan dan kolekte. Sistem dan pelayanan makanan Pastor berupa rantang bergilir dari kelompok-kelompok terutama  kelompok  dipusat Paroki sedang di wilayah stasi diatur tersendiri sesuai kondisi masing-masing stasi. Sementara dalam bidang pembangunan fisik, dilakukan melalui swadaya pembangunan gedung kapela dibeberapa stasi, dibangun di atas tanah yang telah diusahakan bersama umat di era Pater Vicktor Setvok, SVD. Kapela sederhana dibuat antara lain Kapela Marombok (kapela lama), dan Kapela Sok Rutung (kapela lama). Selain itu dilakukan pembangunan Paroki, antara lain  Pastoran di Labuan Bajo, Gereja Paroki di Wae Medu dan Pastoran Wae Medu. Sedangkan di bidang pendidikan menengah dilakukan pendirian SMUK St. Ignatius Loyola tahun 1983.

 

Era P. Agus Watu, SVD:1984—1997

Pater Agus Watu, SVD selain melanjutkan program kerja paroki yang telah dirintis oleh Pater Yan Djuang, SVD, juga memberikan penekanan kepada bidang-bidang berikut ini :

a.      Peningkatan Pembinaan tenaga awam di dalam dewan Pastoral Paroki.

b.     Pembentukan organisasi rohani seperti karismatik katolik, THS/THM, GIM.

c.      Devosi kusus kapela Bunda Maria dengan dibukanya Gua Maria di Nggorang, Dalong, Golo Koe, Wae Lia, dan Puncak Kristus Raja di Golo Dalong.

d.     Mengadakan perayaan Yubelium Agung tingkat Dekenat dan 450 tahun Gereja Katolik Indonesia tingkat Paroki Roh Kudus Labuan Bajo.

e.      Pengalihan SMUK St. Ignatius Loyola kepada SVD dari yayasan awam, dan pembukaan SMPK St. Ignatius Loyola Labuan bajo.

f.      Pembukaan Kapela Stasi yang belum ada, seperti Wae Mata, Longgo di Dalong Tanggar dan Kenari.

 

Era P. Stanis Wyparlo, SVD: 1997

Masih melanjutkan tri program pembangunan Gereja mandiri. Selain peningkatan kehidupan rohani umat, Pater Stanis membuat gebrakan besar-besaran dalam pembangunan fisik seperti : renovasi pembangunan Youth Center, pembangunan Kapela Marombok, Gereja Sok Rutung dan Pastoranya, Kapela Stasi Nggorang, rehap Kapela Melo dan Munting Kajang, rehab Gua Wae Lia Pelindung Abadi, pembangunan Gua Firdaus bersama umat di kelompok St. Sok Rutung. Pembangunan berlanjut terus, antara lain renovasi Gereja Paroki di Wae Medu dan pembangunan-pembangunan lainnya.



 Pastor Paroki yang pernah bertugas di Labuan Bajo


1.   Sebelum tahun 1977 (Labuan Bajo dari Paroki Wangkung):

   P. Victor Stevako, SVD.

2.   P. Yan Djuang Somi, SVD               : 1977 - 1984

3.   P. August Watuh, SVD                    : 1984 - 1997

4.   P. Stanis Wyparlo, SVD                  : 1997 - 2007

5.   Romo Benediktus Jehadun, Pr        : 2007 -2011

6.   Romo Stefanus Sawu, Pr                : 2011 - 2015

7.   Romo Richardus Manggu, Pr          : 2015 –2019

8.   Romo Aloysius Gambur, Pr             : 2019- 2022


Pastor Kapelan yang pernah bertugas di Labuan Bajo


1.    P. Jhon G. Salu SVD (1984-1986)

2.   P. Hendrikus Haki, SVD (1987-1990)

3.   P. Didimus Nai, SVD (1992-1993)

4.   P. Geraradus Bere, SVD (1993-1994)

5.   P. Jhon Lelan, SVD (1994-1995)

6.  P. Beni Wego, SVD (1995-1996)

7.  P. Sando Bataona, SVD (1996-1997)

8.  Rm. Patrck Darsham, Guru, Pr  (1997-1998)

9.  Rm. Martinus Djenarut, Pr  (1998-1999)

10. Rm. Ompy Lasma Latu, pr (1999-2000)

11.  Rm. Aleks Popos, Pr (1999-2000)

12. Rm. Servulus Djuanda, Pr (2000-2001)

13. Rm. Beny Hengky, Pr (2001-2002)

14. P. Albert Rega, SVD (juni-agustus 2002)

15. Rm. Franskikus  Tasar, Pr (2002 - 2007)

16. Romo Yovan Nukul, Pr (1997 – 2007)

17. Romo Louis Jawa, Pr (2007 – 2008)

18. Romo Ivan Harianto, Pr (2008 – 2010)

19. Romo Ferdi Usman, Pr (2010 – 2014)

20. Romo Kornelis Hardin, Pr (2015 – 2019)

21. Romo Heribertus Karno, Pr (2015 – 2019)

22. Romo Silvy, Pr (2019 – sekarang)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan