Situs Cagar Budaya Gereja Tua Rekas

 Gereja Tua Rekas

Gereja Tua Rekas terletak di Rekas Desa Kempo Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat. Gereja Tua Rekas merupakan salah satu Gereja tertua di bumi Manggarai. 

Pendiri Gereja Tua Rekas

Gereja ini dibangun oleh Pater Eickmann, SVD pada tahun 1924 di atas tanah pekuburan para tokoh Kampung Rekas. Walaupun terkesan tidak terurus namun gereja ini masih tampak kokoh dan kuat. Bangunan gotik di abad pertengahan. Interior gereja yang menampilkan tiang-tiang yang kokoh. Atap yang menjulang tinggi. Ornamen-ornamen kaca hias. Warna-warni yang penuh dengan simbol-simbol religius. Bangunan Gereja Tua Rekas dibangun secara gontong-royong bersama umat Islam Kehadiran gereja di Rekas ini menjadi sebuah catatan penting bagi perkembangan Gereja Katolik di Flores.

Sejarah Gereja Tua Rekas

Penelusuran sejaran warisan religi Gereja Tua Rekas akan dikaitkan dengan persebaran agama katolik di Flores umumnya dan Manggarai khususnya. Misionaris Jesuit merupakan imam yang pertama kali mengunjungi wilayah barat Manggarai pada tahun 1910-1911. Pastor Engbers, SJ sebagai pastor tetap untuk Sikka, pada tanggal 14-19 Juni 1911 dengan menumpang kapal kapten De Kock datang dari Maumere ke Labuan Bajo. Dia mengunjungi orang katolik asal Larantuka yang bekerja sebagai penyelam mutiara di Labuan Bajo. Di Labuan Bajo, Pastor Engbers mempermandikan anak-anak asal Larantuka. Dalam kunjungan tersebut, beberapa kali misionaris singgah dan berpastoral juga di Reo.

Pada tanggal 17 Mei 1912, Pater Loojmans, SJ membaptis orang Manggarai yang pertama masuk agama Katolik di Reo. Mereka adalah Katarina, Henrikus, Agnes Mina, Saecilia Weloe, dan Helena Loekoe. Mereka dibaptis dalam usia dewasa dan langsung menerima sakramen nikah suci pada hari yang sama.

Selanjutnya Pada bulan Oktober 1914, Mgr Petrus Noyen, SVD berlayar menuju Reo, Labuan Bajo, kemudian ke Ruteng. Hal yang sama dia lakukan pada bulan November 1915. Dari tahun 1916-1920, P. Wilhem Baack, SVD selaku inspektur sekolah misi menjelajahi wilayah Manggarai dari jurusan timur: Waemokel, Borong, Sita, Ruteng, Reo, sambil merayakan ekaristi dan mempermandikan umat.

Stasi-stasi induk misi katolik mulai dibentuk dari tahun 1920-1924. Pada tanggal 23 September 1920 didirikan stasi induk Ruteng sebagai pusat wilayah misi di wilayah Manggarai bagian tengah. Stasi ini dipimpin oleh P. Bernhard Glaneman, SVD yang berdomisili di Ruteng. Pada tanggal 6 Maret 1921, P. Wilhem Yansen, SVD menetap di Lengko Ajang sebagai pusat misi di wilayah Manggarai bagian timur. Pada tanggal 6 April 1924 P. Franz Eickmann, SVD datang ke Rekas sebagai pusat wilayah misi di Manggarai bagian Barat. Pada tahun 1925 sudah ada dua paroki dengan 7036 umat di Manggarai salah satu di antaranya adalah Rekas.

Dokumen sejarah Gereja Rekas menyatakan pastor pertama yang bekerja di wilayah Rekas adalah Pater Yansen, SVD tetapi tempat tinggalnya masih di Ruteng. Kemudian dia pindah ke Lengko Ajang. Pada tahun 1922 Pater Franch Eickman, SVD masuk ke Rekas menggantikan Pater Yansen, SVD. Beliau belum menetap di Rekas tetapi masih tinggal di Ruteng. Pada tahun 1924 Pater Eickmann,SVD kemudian menetap di Rekas di rumah pesanggrahan. Setelah satu tahun menetap di Rekas Pater Eickmann, SVD merencanakan pembangunan gedung gereja karena sebelumnya memakai rumah sekolah untuk sembahyang.

Rencana Pater Eickmann, SVD untuk mendirikan gereja ini pada awalnya di Tembarai (sekitar kantor Desa Kempo saat ini) tetapi tidak terealisasi. Adapun alasannya karena tidak diberi isin oleh Dalu Rekas yang bernama Dompe. Kemudian Pater Eickman, SVD bertemu dengan tu’a Kampung Tado, yakni Kistoforus Pata (dikenal dengan nama Jarang Lingka) untuk menyampaikan rencana pembangunan gereja dan persoalan larangan dari dalu. Selanjutnya Jarang Lingka coba membuat pendekatan dengan dalu, namun tetap saja ditolak.

Jarang Lingka kemudian menemui suku Nuri yang merupakan keluarganya (ame/anak rona). Pihak suku Nuri akhirnya menyerahkan tanah di lokasi batu mbaru comong Rekas, yakni Lengkong Nara untuk didirikan gereja. Lengkong ini adalah tanah kuburan dari keluarga besar suku Nuri. Tahun 1925 Gereja Rekas yang dibangun di Lengkong Nara dibangun di atas tanah pekuburan. Dan baru rampung pada tahun 1926. Gereja pertama ini dibangun dengan mengambil model Gotik dengan ciri sebagai berikut:

  • Terdapat satu menara pada bangunan yang terletak pada bagian depan yang difungsikan sebagai isyarat adanya peribadatan di dalam gereja. Walaupun dalam perkembangan setelah renovasi terakhir menara gereja ini sudah tidak ada lagi.

  • Proporsi arsitektur yang berkesan agung, menjulang tinggi melebihi skala manusia normal.

  • Filsafat arsitektur Gotik adalah vertikalisme, transparan, dan diafan.

  • Adanya rib vaulting yang merupakan atap bangunan menyerupai membran dan memiliki unsur arsitektural.

  • Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan dengan Jajaran kolom yang terpadu dengan rib voulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan.

  • Terdapat rose window (jendela berbentuk seperti mawar) pada bangunan. Secara arsitektural hal itu digunakan untuk memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi, rose window dipakai sebagai symbol suatu firman Tuhan.

  • Berkembangnya seni kaca patri (clear storey) yang dipasang di dinding bangunan. Hal ini merupakan hasil perkembangan teknologi kaca pada masa itu yang diterapkan pada bangunan.

  • Gambar yang tersaji pada kaca patri banyak menceritakan sejarah keagamaan dan tokoh-tokoh yang berpengaruh.

Dalam catatan gereja lokal, Gereja Tua Rekas ini sebenarnya merupakan gereja pertama. Pembangunan gereja tua Rekas ini dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun dan pada tahun 1926 Gereja Rekas diberkati. Adapun wilayah gereja Rekas pada saat itu adalah seluruh daerah Manggarai Barat bahkan beberapa kedaluan di Manggarai. Ini dibuktikan dengan dokumen permandian yang masih tersimpan baik di kantor Paroki Rekas saat ini. 

Dalam buku permandian tersebut terdapat nama-nama kampung/kedaluan, yaitu Pocoleok, Pongkor, Todo, Lelak, Rahong, Pacar, Bari, Rego, Ndoso, Kolang (Ranggu), Welak, Bajo, Nggorang, Matawae, Wontong, Look, Labuanbajo, Mburak, dan Kempo. Pada saat perayaan Paskah dan Natal umat yang berasal dari daerah-daerah tersebut semuanya beramai-ramai datang ke Gereja Rekas. Gereja tua Rekas dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami beberapa kali renovasi. 

Tahun 1935

Pater Theo Tolen, SVD sebagai pastor paroki Rekas yang menggantikan Pater Eickmann, SVD. Dilakukan renovasi berupa menggantikan dinding dan kayu yang sudah rusak dan menambah panjang 5 meter. 

Tahun 1952

Pater Geeraeds, SVD sebagai Pastor Paroki Rekas dan Pater Yosep Van Hoef, SVD sebagai pastor kapelan/pembantu. Dilakukan renovasi berupa menambah panjang 5 meter Gereja Rekas dan Dinding gereja ditempel zink

Pada tahun 1975

Pater Yoseph Van Hoef, SVD. Kegiatan Renovasi berupa menambah panjang 10 meter Gereja Rekas, yaitu 5 meter ke depan dan 5 meter ke belakang, dinding diganti dari papan menjadi dinding tembok berbatu, Candi Gereja diturunkan dari bubungan depan Gereja dan dibangun candi baru di samping Gereja.

Foto Gereja Rekas yang didirikan pada tahun 1924 oleh Pater Eickmann, SVD. Gereja ini merupakan gereja pertama di bumi Manggarai

Foto Gereja Rekas pada tahun 1952, pada Masa Pater Geeraeds, SVD sebagai pastor paroki Rekas dan Pater Yosep Van Hoef, SVD sebagai pastor pembantu. 

Gereja Rekas. Rehabilitasi kedua pada tahun 1975 oleh Pater Yoseph Van Hoef, SVD. Fokus pada renovasi periode ini menambah luas menjadi panjang 10 meter (5 meter ke depan dan 5 meter ke belakang. 


Kondisi Gereja saat ini

Walau terkesan tak terurus namun masih tetap menampakan kekokohan. Gereja yang dibangun mengambil model Gotik dengan ciri:

  • Proporsi arsitektur yang berkesan agung, menjulang tinggi melebihi skala manusia normal

  • Filsafat arsitektur Gotik adalah vertikalisme, transparan, dan diafan.

  • Adanya rib vaulting yang merupakan atap bangunan menyerupai membran dan memiliki unsur arsitektural.

  • Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan dengan Jajaran kolom yang terpadu dengan rib voulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan.

  • Terdapat rose window (jendela berbentuk seperti mawar) pada bangunan. Secara arsitektural hal itu digunakan untuk memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi, rose window dipakai sebagai symbol suatu firman Tuhan.

  • Berkembangnya seni kaca patri (clear storey) yang dipasang di dinding bangunan. Hal ini merupakan hasil perkembangan teknologi kaca pada masa itu yang diterapkan pada bangunan.

  • Gambar yang tersaji pada kaca patri banyak menceritakan sejarah keagamaan dan symbol symbol yang berpengaruh.


Bapak Paulus Parue sebagai Tokoh masyaratkat/keturunan tu’a golo Kampung Rekas yang dibaptis Pater Franch Eickman, SVD. 


Paulus Parue
Umat pertama yang dibatis menjadi anggota gereja Katolik Rekas

Sejarah Kampung Rekas dan Masyarakat




      Rekas adalah nama sebuah kampung, sebagai pusat pemerintahan desa Kempo di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tidak dapat dipastikan kapan kampung ini terbentuk namun Kampung ini meruapakan salah satu pusat kedaluan yakni Kedaluan Kempo saat Manggarai dikuasai oleh Kesultanan Bima. Wilayak kedaluan Kempo meliputi Rekas, Bambor, Rangga watu dan Golo Menes. Kampung Rekas sendiri terdiri dari etnik senge, Rekas dan Nuri.

   Pada tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai. Belanda melihat Manggarai meliputi Wae Mokel awon (batas timur) dan Selat Sape salen (batas barat) sebagai satu kesatuan yang utuh. pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor. Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan termasuk kedaluan Kempo yang berpusat di Rekas.

   Bersamaan dengan pengaruh Belanda di Manggarai Rekas Kampung Rekas menjadi pusat gereja katolik di wilayah Barat. Dimulai dengan pembangunan sekolah yakni Sekolah Rakyat (SR) di Rekas pada tahun 1921 kemudian Rekas menjadi pusat misi katolik di wilayah barat kerajaan Manggarai. Dokumen sejarah gereja Rekas menyatakan Pastor pertama yang bekerja di wilayah Rekas adalah Pater Yansen, SVD tetapi tempat tinggalnya masih di Ruteng. Pada tahun 1922 Pater Franch Eickman, SVD masuk ke Rekas menggantikan Pater Yansen,SVD. Beliau belum menetap di Rekas tetapi masih tinggal di Ruteng. Pada tahun 1923 Pater Eickmann,SVD kemudian menetap di Rekas di rumah pesanggrahan. Lalu kemudian Pater Eickmann, SVD mulai membangun dan sebagai gereja pertama di Manggarai.

Kondisi Ekonomi, Pendidikan, dan Kampung Rekas

Kampung Rekas juga merupakan pusat pemerintahan desa Kempo. Kantor Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) berkedudukan di Rekas . Warga kampung Rekas sebagaian besar bermata pencaharian sebagai petani, dengan hasil andalannya perkebunannya adalah kopi, cengkih, vanili, cokelat, kemiri, merica. Rekas juga menjadi pusat perekonomi desa khususnya dan Kecamatan Mbeliling umumnya dengan adanya pasar desa. Dalam hal pendidikan Rekas merupakan kampung sejarah. Sejak masa sebelum kemerdekaan yakni tahun 1921 di Rekas telah berdiri sekolah Rakyat (SR) yang dibangun. Saat ini di Rekas memiliki 1 Paud/TK, 2 Sekolah Dasar dan Satu SMP.

Kampung Rekas yang terdiri dari tiga RT dengan jumlah penduduk 800 jiwa membentang dari timur ke barat, dengan batas-batas wilayah;

  • Timur berbatasan dengan Kampung Bambor

  • Barat berbatasan dengan Kampong Lara

  • Utara berbatasan dengan Kampung Rangga Watu

  • Selatan berbatasan Kampung Remri’i

Warga Kampung Rekas masih mengakui keberadaan lembaga dan struktur Adat. Kepala Kampung atau yang disebut Tua Golo masih diberi hak dan porsi kewenangan dan tugas yang berhubungan dengan adat istiadat. Kampung Rekas.


Cerita rakyat 

Adalah Kempong dan Luwung putra dari bapak bernama Gowang. Sejak kecil kedua kakak beradik ini tidak pernah akur. Keduanya selalu bertengkar dan berkelahi. Hal ini tentu saja membuat sedih hati orang tuanya. Hingga beranjak dewasa saat keduanya memutuskan untuk berkeluarga perseteruan semakin menjadi jadi. Motifnya juga semakin jelas yakni perebutan harta kekayaan orang tuanya si Tanjung yang kebetulan terkenal kaya di kampungnya.

Tanjung yang juga merupakan adalah kepala kampung kemudian mengundang tua-tua kampung lainnya untuk menjadi saksi sayembara terhadap kedua anaknya yakni sayembara babi yang dalam bahasa di kampungnya disebut wawi. Yang dinilai adalah babi siapa yang paling gemuk. Siapa yang menang dia berhak atas warisan sedangkan yang kalah tidak mendapatkan harta kekayaan orang tuanya dan harus pergi dari kampungnya untuk tidak boleh kembali ke kampung halamannya. Keputusan itu diambil oleh orang tuanya untuk menghindari persaingan pada cucu dan keturunan selanjutnya. Babi yang disembara adalah babi peliharaan keduanya. Si Kempong dan si Luwung lalu mencari babi-babi yang paling gemuk dari beberapa peliharaan mereka masing masing. Luwung memilih babi jantan besar sedangkan Kempong memilih babi betina yang sedang bunting yang besar.


Tibalah waktunya untuk sayembara. Begitu ditampilkan babi-babi tersebut. Tua-tua kampung yang menjadi juri menjadi bingung untuk menilai. Di satu pihak secara kasat mata babi betina yang sedang bunting milik Kempong nampak jauh lebih gemuk dan lebih besar dari babi jantan milik Luwung. Namun di pihak yang lain babi betina yang bunting itu sebenarnya berjumlah bukan hanya seekor tetapi beberapa ekor induk dan anak anaknya yang masih dibuntingin. Keputusan kembali siapa yang juara diserahkan kepada si Jantong sebagai ayah karena para tua kampong takut terutama melihat karena reaksi dari Luwung yang siap protes andai babinya kalah. Si ayah pun kemudian memutuskan babi si luwung yang menang.


Kempong kemudian harus pergi dari kampong dan orang tuanya bersama kelurganya dengan membawa serta babi yang kalah dalam sayembara tadi. Mereka pun pergi jauh menyeberangin lautan dengan perahu. Hingga tiba di daratan yang lain. Mereka pun menamakan tempat itu Mberenang . Walau pun tempat itu sangat gersang namun mereka memutuskan untuk tinggal di sana. Kempong pun teringat akan salah satu point perjanjian yakni tidak boleh kembali ke kampung asalnya maka dipecahkannya sampannya itu dan dibiarkannya di pantai.


Setelah beberapa lama mereka berada di Mberenang babi mereka pun menghilang. Kempong dan keluarga mencari kemana mana di kawasan sekitar pantai namun tak kunjung dijumpai. Kemudian Kempong dan kelurganya mencari di kawasan hutan . Lalu ditelusuri hutan demi hutan hingga di hutan Mbeliling hutan yang sangat lebat di arah Barat dari tempat tinggal mereka di Mberenang. Hingga tibalah mereka di lembah kaki hutan Mbeliling. Di sana didapatkannya jejak jejak babi miliknya. Jejak yang paling kelihatan jelas adalah berupa kubangan dengan mata air yang diyakini babi miliknyalah yang telah menggali mata air tersebut. Melihat jejak di atas kubangan itu tersebut Kempong pun berteriak inilah “Rakas Wawi” kita. Kempong dan kelurganya pun menjadi penasaran untuk terus mencari babi bunting milik mereka. Hingga pada akhirnya mereka melihat lubang dan di dalam lubang tersebut dilihatnya babi milik mereka sudah mati. Dalam kesedihan nya mereka pun menutup lubang tersebut menyerupai kuburan.


Kempong dan kelurganya pun memutuskan untuk tinggal di tempat itu. Mereka selalu berterimakasih kepada babi bunting miliknya karena telah menuntun mereka ke tempat tersebut sebuah tempat yang subur dan penuh hasil. Mereka pun meyakini bahwa mata air di jejak kubangan babi itu sesungguhnya air yang dipersipakan untuk keluarga Kempong agar mereka tinggal dan menetap di tempat itu. Mereka pun menamakan tempat itu adalah Rakas (Rekas) yang artinya jejak. (Disadur dari cerita Bapak Paulus Paroe)


Pastor-Pastor yang pernah berkarya di Gereja Tua rekas 


1. PATER FRANCH EICKMANN (1922–1932)

     Pater Eickmann, SVD sangat memperhatikan kehidupan umat Allah selain bangunan fisik. Beliau sebagai perintis yang telah meletakkan dasar iman Katolik di paroki Rekas. Pater Eickmann,SVD ini sangat dekat dengan umat. Diceriterakan suatu saat ada orang meninggal di Rekas (mbaru comong)  Pater Eickmann,SVD hadir untuk mete  bersama masyarakat. Beliau ikut aktif dalam permainan ‘bone kila’ (sarana mete pada jaman dulu yang sudah hilang saat ini diganti dengan judi kartu remi), dan pada saat kila (cincin) itu ada di tangannya tiba-tiba kila itu jatuh di kolong rumah. Dalam  permainan bone kila ini sudah menjadi syarat umum bahwa jika kila tersebut jatuh maka siapa yang menjatuhkan apapun alasannya harus mengambilnya sendiri. Karena tahu syarat tersebut maka tidak sungkan-sungkan Pater Eickmann,SVD turun ke kolong rumah untuk mengambil kila tersebut. 

     Pater Eickmann,SVD meletakkan dasar gereja basis  di Rekas dengan mengirimkan enam orang anak SDK Rekas ke Sekolah Standard di Ruteng dan lanjut ke O.V.O Ndona yaitu Domi Dula, Frans Rudu, Domi Napa, A.Abur, Anton Aban, dan N. Nabu. Jadi, enam orang inilah merupakan guru pertama di Rekas ditambah tiga orang lain yang tamat sekolah dasar di Labuanbajo yaitu N.Solo, Yosep Jandu dan Yosep Rumpa. Kesembilan orang ini merupakan perintis mengembangkan dunia pendidikan di Rekas dan sangat berperanan juga dalam mengembangkan iman Katolik di Manggarai Barat. Sebuah ceritera kecil dari bapak Domi Dula dalam dokumen yang ditulisnya mengisahkan  bahwa ketika besoknya mau berangkat ke Ndona, Yosep Rumpa lari ke kampung. Ketika sampai di Nggorang Yosep Rumpa bertemu dengan Pater Eickmann,SVD. Pater Eickmann marah dan menyuruhnya balik ke Ruteng  dan lanjut ke Ndona. Yosep Rumpa akhirnya pulang ke Ruteng tetapi ketika sampai di Ruteng semua temannya sudah berangkat ke Ndona.  

     Dia tidak putus harapan karena itu tetap melanjutkan perjalanan untuk mengejar teman-temanya itu. Perjuangan Yosep Rumpa berhasil karena mendapatkan teman-temannya di Todabelu Bajawa dan mereka bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Ndona. Pater Eickmann,SVD kemudian pindah ke Mataloko dan meninggal di sana (tahun?). Diceritakan oleh bapak Alo Mongko, beberapa tahun setelah Pater Eickmann,SVD meninggal ada niat supaya kuburnya di Mataloko dipindahkan ke Rekas. Bapa Uskup Mgr.Vitalis Djebarus,SVD  sudah setuju tetapi tidak diijinkan oleh bupati Manggarai Frans Lega saat itu karena rencana tersebut tidak melibatkan dia padahal melewati wilayah kekuasaannya. Sempat terjadi perselisihan antar uskup Vitalis dan bupati Lega. Mendengar hal tersebut uskup Agung Ende untuk meredam masalah itu akhirnya uskup Vitalis dipindahkan menjadi uskup Denpasar. Sebagai tanda penghormatan atas jasa besar Pater Eickmann,SVD tanah kubur beliau di bawah ke Rekas dan sampai saat ini tanah kubur itu masih ada dilapisi semen di dinding tembok depan pendopo gereja tua Rekas. Itu merupakan satu-satunya kenangan Pater Eickmann,SVD untuk dijaga umat paroki Rekas.

2.  PATER THEODORUS TOLEN,SVD ( 1932 – 1939 )

    Pater Theodorus Tolen,SVD menggantikan Pater Eickmann,SVD. Pada tahun 1935 P.Theo Tolen,SVD membangun sebuah gua di samping pastoran lama (kini menjadi rumah paroki). Gua Maria ini menjadi tempat ziarah umat dari berbagai pelosok di Manggarai. Beliau juga membangun/membuat stasi jalan salib di luar gedung gereja (kini masih ada  dan sudah direnovasi). 

    Pater Tholen,SVD dikenal sebagai pastor pendo’a mohon hujan dengan berziarah ke Golo Kempo. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pastor bersuara emas karena suaranya merdu dan dia giat melatih umat untuk menyanyi terutama lagu bahasa Latin. Menurut bapak Anton Haru, pada masa Pater Tolen,SVD membangun kapela di tiap-tiap wilayah kedaluan seperti kapela Perang untuk Kedaluan Wontong, kapela Pandang untuk kedaluan Bajo, kapela Nggoang untuk kedaluan Matawae dan kapela Longgo untuk kedaluan Nggorang. Beliau juga membentuk koperasi guru-guru bertempat di dalam kompleks paroki namanya toko Campe Tau untuk menyaingi toko-toko China yang ada di Rekas.  Kebetulan waktu itu ada tiga orang China di Rekas yang memilki toko dengan harga barang sangat tinggi. Toko Campe Tau ini cukup berkembang menyebabkan toko orang China tersebut dibubarkan dan mereka lari ke Labuan Bajo. 

       Pater Tolen,SVD dikenal didikannya sangat keras terutama menyangkut hidup menggereja.  Beliau tidak segan-segan menyiksa umat jalan berlutut keliling gereja gara-gara tidak tahu do’a Bapa Kami seperti yang dialami bapak Arnoldus Beco. Pada jaman pater Theo Tolen,SVD dibentuk beberapa organisasi rohani antara lain organisasi untuk laki-laki dan wanita yang sudah menikah diberi nama Santu Yosep dengan memakali medali  tali warna merah, organisasi wanita dewasa diberi nama Santa Maria dengan memakai medali tali warna biru dan organisasi pemuda diberi nama Santu Aloysius dengan tali warna kuning. Pater Theo Tolen,SVD selama bekerja di paroki Rekas dibantu oleh Pater Wiebring, SVD dan Pater Nico Bot,SVD. Pater Wiebring,SVD tidak lama di Rekas sedangkan Pater Nico Bot,SVD wilayah kerjanya di Ranggu (saat itu masih bagian dari stasi Rekas). Mengingat wilayah kerja Pater Tolen,SVD sangat luas maka pada tahun 1936 tibalah Pater Yakobus Geeraeds,SVD sebagai pastor pembantu. Pada tahun 1939 Pater Theo Tolen,SVD pergi cuti ke Belanda dan menetap di tanah airnya.


3.  PATER JACK GEERAEDS,SVD (1939 -1952)

Pater Geeraeds,SVD menggantikan Pater Theo Tolen,SVD. Pada masa ini Manggarai dikuasai oleh pemerintahan Jepang dan pecah perang Asia Timur Raya. Semua pastor berkebangsaan Belanda di Indonesia dipenjarakan di Pare-Pare Sulawesi Selatan tak terkecuali Pater Geeraeds,SVD. Semua umat merasa khawatir entah apa yang akan terjadi dengan umat Katolik Manggarai ke depan karena kehilangan para gembalanya. 

     Sebelum ke Pare-Pare, para pastor itu memberikan kuasa kepada semua kepala sekolah untuk memberi pernikahan suci kepada umat Katolik dan mempermandikan anak kecil yang baru lahir termasuk di paroki Rekas. Khusus untuk di paroki Rekas saat itu diangkatlah bapak Celerinus Datang untuk menjaga paroki dan secara rutin mengunjungi umat. Diceritakan oleh bapak Anton Haru, satu kali tentara Jepang masuk di pastoran memaksa supaya pipa air dan piring makan pastor harus diserahkan kepada tentara Jepang tetapi Celerinus tidak kasih akibatnya dia dipukul dan diancam. Markas tentara Jepang di Rekas dulu di sebelah atas Wae Dangko yang disebut Liang Nipong. Pada masa itu Uskup Ende Mgr. H.Leven sempat mengunjungi paroki Rekas. Pada tahun 1945 Jepang mengalami kekalahan dan meninggalkan Indonesia. Semua pastor yang dipenjarakan akhirnya dibebaskan termasuk Pater Geeraeds,SVD.

      Pada awal tahun 1946, Pater Geeraeds,SVD tiba kembali di Rekas. Beliau tidak menunggu lama-lama lagi untuk mengunjungi sekolah sekolah dimana biasanya tempat umat menyambut gembalanya. Di tiap-tiap sekolah dia diterima umat dengan acara sederhana dinamakan ‘Caca Wase’ artinya luput dari penderitaan. Sejak saat itu beliau mulai mendirikan beberapa kapela di stasi-stasi di Rekas dan dia sebagai pastor yang rajin mengunjungi umat dalam wilayah Kempo, Boleng dan Matawae. Dengan senjata antiknya beliau sering berburu babi hutan dan burung. Pada tahun 1950 Pater Yosep Van Hoef, SVD tiba di Rekas sebagai pastor pembantu. Pater Geeraeds,SVD  setelah itu dia pindah ke Orong.

 

4. PATER YOSEPH VAN HOEF,SVD ( 1952 – 1996 )

      Pater Yosep van Hoef,SVD menggantikan Pater Geeraeds,SVD sebagai pastor paroki Rekas. Beliau membangun beberapa kapela di stasi-stasi dengan atap sink (aluminium) dan dinding papan/gedek. Satu-satunya sarana yang dipakai Pater Yoseph saat berpatroli untuk mengunjungi umat di stasi-stasi adalah kuda. Mengingat usianya yang tua, alat transportasi kudanya pun diganti dengan kendaraan mobil Hiline. Kuda-kuda itu sering diikat di halaman rumah pastoran atau di sekitar gereja. Dan kalau musim panen jagung tiba anak-anak di Rekas biasa membawa batang/daun jagung muda ke Pater Yosep dan beliau menukarnya dengan gambar-gambar majalah yang dimiliki Pater Yoseph. Anak-anak sangat senang bukan karena gambarnya yang bagus tetapi semata-mata karena sudah ketemu empat mata dengan Pater Yosep. 

     Seperti Pater Tholen, Pater Yoseph juga sering melakukan ziarah bersama umat ke Golo Kempo untuk meminta hujan. Setiap perayaan besar seperti Paskah dan Natal selalu dirayakan di pendopo gereja lama dan umat berada di bawah kemah sederhana di seputaran pohon Munting di depan gereja. Pater Yosep mengijinkan/memberikan tempat dalam kompleks gereja untuk pekuburan bagi orang-orang tua yang meninggal saat itu seperti di samping gereja lama dan di belakang gereja baru saat ini.  Pada jaman beliau juga ada cukup banyak pembantu yang bekerja di pastoran. Ada yang tugasnya mengurus kuda-kuda, mesin giling, memasak dan mengolah sawah pastoran. Mereka ini biasa dijuluki dengan sebutan ‘anak de tuang’. Pater Yosep van Hoef,SVD beberapa kali merenovasi gereja tua Rekas seperti penurunan lonceng gereja dan ditempatkan disamping gereja, penambahan luas gereja ke muka dan ke belakang masing-masing 5 meter. Pater Yosef van Hoef,SVD berinisiatip untuk membuka sebuah SMP di Rekas karena saat itu satu-satunya SMP berada di Ruteng (SMP Tubi).

     Karena itu setelah berkonsultasi dengan kraeng Jarang Lingka, Pater Yosef mengadakan sidang dengan para guru, pemuka rakyat dan seluruh kepala desa se-paroki Rekas untuk untuk maksud tersebut. Maka pada tahun 1956 dibuka SMP pertama di Rekas yaitu SMP Jarang Lingka. Namun, keberadaan SMP ini tidak lama. Menurut bapak Anton Haru, ada anasir-anasir (provokator,pen.) yang menghasut rakyat agar SMP tersebut jangan dilanjutkan.  Ketika Pater Yosep van Hoef,SVD pertama kali pergi cuti ke Belanda, tugas pastoral di paroki Rekas untuk sementara digantikan oleh Pater Ludovikus Manggas,SVD dan Pater Markus Malar,SVD yang menetap 1 – 1 ½ tahun. Kemudian sekitar awal tahun 1966 datang ke Rekas Pater Erwin Smooth, SVD sebagai pastor pembantu. Saat ini pecah perang Gestapu dan Pater Erwin,SVD banyak membantu umat/masyarakat saat gejolak perang saat itu. 

       Diceriterakan pastoran  dijadikan tempat asrama bagi umat yang mengungsi karena takut gejolak saat itu apalagi penumpasan organisasi terlarang (PKI) untuk kedaluan Kempo, Matawae dan Boleng saat itu berpusat di Rekas. Setelah itu, Pater Erwin,SVD kemudian ditugaskan di paroki Nunang. Pater Yosep Van Hoef,SVD menghabiskan masa tuanya di Teteringen Belanda. Selama berada di sana beliau tetap ingat Rekas dengan beberapa kali mengirim surat atau fotonya ke beberapa umat di Rekas. Pada tanggal 29 Agustus 2004 beliau menghembuskan nafas terakhir untuk kembali ke pangkuan Sang Ilahi di Surga. Seluruh umat paroki Rekas berduka dan secara khusus mengadakan misa Requiem dan do’a-do’a selama empat hari berturut-turut untuk mengenang sekaligus mendoa’kan kebahagiaan beliau di Surga. 

        Dari sekian pastor yang pernah berkarya di Rekas mungkin Pater Yosep van Hoef,SVD  ini yang banyak dikenal orang karena dia berkarya sangat lama di paroki Rekas yaitu selama 44 tahun. Tidak berlebihan menyebut Gereja Rekas orang teringat dengan sosok Pater Yosep van Hoef,SVD. Umat paroki Rekas sering menyebutnya dengan panggilan Em Lebot. Bagaimana dan siapa pertama kali yang memberi nama itu tidak ada yang tahu pasti.

 

5.  PATER LAURENSIUS KUIL,SVD (1996 -1997)

       Pater Laurens Kuil,SVD menggantikan Pater Yosep Van Hoef,SVD Sebelumnya beliau menjadi pastor pembantu pater Yosep dan pada tahun 1997 belaiu pindah ke paroki Werang.


6. PATER YAN DJUANG SOMI,SVD (1997 – 1999)

Beliau menggantikan pater Laurens Kuil,SVD. Ketika terpilih menjadi Provinsial SVD Ruteng pindah ke Ruteng dan digantikan oleh pater Gabriel Mite, SVD.


7.  PATER GABRIEL MITE,SVD ( 1999 – 2009)

     Pada jaman Pater Gebi ini gereja Rekas yang baru dan megah didirikan.  Beliau dikenal sebagai pastor yang memiliki jaringan/relasi dengan pihak luar terutama dalam mencari/melobi donatur. Status SMPK Mutiara Rekas yang sebelumnya dikelola oleh umat (Ketua Yayasan bapak Alo Mongko) pada jaman beliau dialihkan menjadi asset paroki dan berada di bawah tanggung jawab pastor paroki sampai saat ini. Pada zaman beliau juga masuknya biara/kongregasi susteran (CP) pertama kali untuk berkarya di paroki Rekas dengan lokasi biara di samping gereja baru saat ini. Salah-satu karya nyata biara ini adalah membuka TK St. Gema Galgani. Awalnya dibangun di samping gereja lama dengan memakai gedung asrama putri SMP Mutiara Rekas yang kemudian pindah ke Bambor. 

        Selama 10 tahun berkarya di paroki Rekas, Pater Gebi Mite, SVD dibantu oleh beberapa pastor pembantu antara lain Pater Anton,SVD (sekarang di komunitas SVD Ruteng), Pater Yeremias G. Bero,SVD (sekarang Pastor Paroki Rekas), dan Pater Albert, SVD (sekarang lagi melanjutkan pendidikasn di Jakarta). Tahun 2009 Pater Gabriel Mite, SVD pindah ke Bima.


8.  PATER ROMUALDUS PITAN, SVD (2010–sekarang )

       Pater Romualdus Pitan, SVD menggantikan Pater Gabriel Mite, SVD. Sebelumnya beliau ditugaskan di paroki Mombok Manggarai Timur. Pada awal masuk di paroki Rekas beliau menekankan bahwa beliau tidak mencampuri masalah keuangan paroki. Biarlah masalah itu diurus oleh umat sendiri. Beliau dibantu oleh pater Yance Jawan, SVD sebagai pastor kapelan. Gereja Rekas yang baru dan lingkungan sekitar gereja sepeninggalan pater Gebi masih banyak  item pekerjaan yang harus disempurnakan. Pada saat ini perhatian para donatur untuk paroki Rekas sangat besar. Mulai dari pemasangan lantai keramik di pendopo gereja baru, renovasi stasi-stasi jalan salib di luar gereja, renovasi gua Maria. Dan yang sedang dan masih dalam proses pengerjaan saat ini adalah pembuatan taman di halaman gereja baru. Pemerintah daerah kabupaten Manggarai Barat juga tidak menutup mata untuk membantu pengembangan kompleks gereja Rekas ini. Mungkin satu hal yang masih dipikirkan lagi ke depan terutama oleh Pater Romualdus Pitan, SVD saat ini adalah renovasi gedung gereja tua/lama yang sudah banyak rusak seperti jendela-jendela sudah pecah/hancur. Bagaimana pun gereja lama Rekas ini merupakan salah-satu icon gereja tertua di Keuskupan Ruteng karena itu harus dijaga kelestariannya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan