Situs Cagar Budaya Liang Sepang

 Liang Sepang





Deskripsi
Liang Sepang adalah sebuah gua alam yang terletak di kampung Nggieng, Desa Beo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Desa yang tak jauh dari Labuan Bajo Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat ini hanya berjarak kurang lebih 35 km arah utara dan ditempuh dalam waktu satu setengah jam dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalan yang berlika-liku di bawah pepohonan yang rindang dan kicauan burung sepanjang jalan menemani perjalanan para pengunjung Liang Sepang. 

Gua  berada di tebing persis di belakang rumah warga. Gua ini memiliki beberapa ruang terbuka yang menembus pandangan ke arah langit. Adapun ruang tertutup, di mana pengunjung harus menggunakan senter untuk menerangi perjalanan dari ruang ke ruang yang gelap gulita tersebut. Pintu masuk (mulut) gua sangat sempit. Hanya bisa dilewati satu orang. Masuk ke dalam gua satu-satu dengan cara jongkok. Bagian dalam gua terdapat gumpalan stalagtit dan stalagmit menghiasi dinding gua dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna. Ada yang menyerupai kepala burung merpati, bentuk kursi kerajaan disertai mahkota persis di atas kursi tersebut, bahkan ada yang menyerupai patung perempuan. 

Sejarah singkat
Liang artinya Gua dan Sepang artinya nama sebuah suku. Menurut warga setempat, liang Sepang berdaya magis. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam gua karena ada kekuatan gaibnya.  Diceritakan, bahwa dahulu bule pernah tidur di gua ini. Mereka berdua suami istri. Pernah terjadi, di kala orang ramai mencari batu akik, salah seorang warga dari kampung tersebut masuk ke dalam gua dan memecahakn gumpalan batu di dinding gua lalu dibawanya pulang untuk dijual. Namun dia tidak berhasil menjualnya karena merasa tidak nyaman yang pada akhirnya terserang sakit yang berujung kematian. Diceritakan pula bahwa liang sepang sebagai tempat tinggal manusia zaman ratusan tahun yang lalu. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya batu berbentuk kursi kerajaan disertai mahkota persis di atas kursi tersebut, dan ada yang menyerupai patung perempuan, serta ada nyanyian yang bersumber dari gua ini.

Ritual adat
Setiap tamu yang masuk ke dalam gua, dilakukan ritual adat terlebih dahulu. Dengan maksud agar gua tersebut ramah dengan tamu-tamu yang datang dan tamu-tamu yang datang merasa aman dan terlindungi. Ritual adat dilakukan secara sederhana oleh tua adat setempat. Material adat untuk ritual berupa telur ayam kampung. Bagian dari telur ayam itu dipecahkan, lalu ditaruh di atas tongkat kayu, selanjutnya didoakan dengan menggunakan bahasa setempat. Usai ritual adat baru diperbolehkan memasuki gua, yang dipandu oleh petugas setempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan