Situs Cagar Budaya Watu Dungga
Watu Dungga
Watu Dungga yang berada persis di pinggir ruas jalan utama Pantura Labuan Bajo-Gerak- Terang, tidak asing lagi buat masyarakat kampung Gerak dan sekitarnya. Batu yang selalu dilalui oleh banyak orang tersebut berada persis di depan rumah Bapak Yosef Pance, salah seorang warga Kampung Gerak, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Batu dengan ukuran panjang kurang lebih 5 meter, lebar kurang lebih 2 meter, serta tinggi kurang lebih 2 meter itu harus ditempuh dalam waktu 40 sampai 50 menit dengan jarak tempuh 17 km dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat.
Untuk menempuh tempat bersejarah ini, para travellers bisa menggunakan sepeda motor atau mobil. Perjalanan santai dan mengasikan sepanjang Pantai Utara tidak melelahkan, kalaupun masih ditantang dengan kondisi jalan yang kurang sekian kilo meter belum diaspal. Pohon pisang dan sayur sayuran lokal mengelilingi sekaligus menghiasi batu yang bernilai historis tersebut.
Watu Dungga berasal dari bahasa Bima. Secara harafiah Watu artinya batu dan Dungga artinya Perahu. Jadi Watu Dungga adalah batu perahu. Dahulu kala, ketika air laut naik, perahunya orang Bima ini bersandar di tepi pantai, namun pada akhirnya dia tidak dapat kembali ke laut lagi karena air laut menjadi surut. Tidak lama kemudian perahu ini berubah bentuk menjadi batu. Cerita ini sangat masuk akal karena letak batu yang berada sedikit sejajar dengan ketinggian air laut saat ini dan jarak yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai . Kalau dilihat secara dekat dari berbagai arah, nampak jelas batu ini seperti sebuah perahu, sehingga membenarkan dan meyakinkan para pengunjung bahwa dia berasal dari perahu.
Perubahan bentuk dan fungsi dari perahu menjadi batu tidak meninggalkan kesan mistis dan keramat untuk batu ini. Mereka tidak merasa terganggu ketika melewati batu ini, baik di siang hari maupun di malam hari, namun warga setempat menghargai dan menghormatinya dengan memberikan sesajian pada saat penti setelah panen padi. Kegiatan ini berlangsung setiap tahun sampai di era 60-an dan tidak dilanjutkan lagi sampai dengan saat ini tanpa alasan yang jelas , tutur Yosef. Menurut kesaksian orang tua di kampung Gerak dahulu di saat tertentu di malam hari batu ini mengeluarkan cahaya, seperti cahaya senter, lanjut Yosef, sang pemilik lahan tempat batu itu berada. Akhir akhir ini, pada saat pelebaran ruas jalan utama Pantura, bagian Watu Dungga yang berada di bahu jalan sempat digusur dengan menggunakan alat berat Exavator namun tidak berhasil dipecahkan, bahkan merontokan dua gigi bucket alat berat tersebut. Sketika itu juga meyakinkan masyarakat setempat bahwa batu ini memiliki kekuatan dan berpenghuni namun sudah menyatu dan bersahabat bersama masyarakat setempat. Waktu itu juga mereka meminta agar ruas jalan tersebut harus bergeser dari sekitar kawasan batu tersebut sehingga tidak mengganggu keberadaannya.
Komentar
Posting Komentar