Situs Cagar Budaya Watu Empo Rua
Watu Empo Rua
Watu Empo Rua adalah sebuah situs cagar budaya yang terletak di sebuah kampung Purek, Desa Pong Narang Kecamatan Ndoso Kabupaten Manggarai Barat. Jarak dari ibu kota Kabupaten Manggarai Barat kurang lebih 80-an kilo meter atau ditempuh dengan waktu 3 jam perjalanan. Batu tegak, kokoh, dan tertancap tersebut berbentuk lonjong, tinggi di atas tanah kurang lebih 1.5 m dan berdiameter 30 cm. Batu tersebut merupakan bagian batu megalitik seperti yang ada di berbagai belahan dunia, salah satunya di Eropa.
Watu Empo Rua terdiri atas tiga kata, yaitu watu, empo, dan rua. Watu artinya batu. Empo artinya sapaan untuk kakek atau nenek. Rua artinya nama seorang leluhur. Pada zaman dahulu sapaan "empo" tidak hanya kepada manusia, tetapi juga hewan, atau sesuatu yang tidak berwujud, seperti zin atau sejenisnya. Empo Frase Watu Empo Rua artinya batu tempat kubur dari Empo Rua. Batu tersebut dalam posisi tegak, kokoh, dan tertancap di tanah. Batu tersebut tidak dapat dicabut. Pada bagian batu ada lukisan wajah manusia yang menyerupai wajah Empo Rua. Diceritakan bahwa dahulu ada dua batu di lokasi yang sama, yaitu satu batu ada lukisan menyerupai wajah Empo Rua dan satu batu ada lukisan yang menyerupai wajah nenek Niri. Namun, Batu nenek Niri sudah hilang entah siapa yang mencurinya. Di bagian bawah batu tersebut sebagai tempat kuburnya Empo Rua dan Nenek Niri. Dapat dikatakan, watu tersebut sebagai penanda bahwa di bagian bawahnya ada kuburan Empo Rua dan Nenek Niri.
Legenda Watu Empo Rua
Pada Zaman dahulu empo Rua hidup
bersama dengan manusia. Manusia membuat kampung kecil (mukang) di Golo Pau,
sementara empo Rua tinggal di watu Niri (tempat nenek Niri tinggal). Nenek Niri
bersahabat dengan empo Rua sehingga mereka hidup bersama. Pada suatu waktu empo
Rua minta makan kepada nenek Niri, tetapi bukan nasi yang diberikan melainkan daging manusia
sehingga nenek dikasih jalan oleh empo Rua mengambil daging manusia untuk
dimakan selain mengisi keperluannya. Pada suatu waktu istri dari manusia ini
ngidam ingin makan mangga, tetapi pada waktu itu musim mangga sudah lewat, maka nenek Niri minta bantuan pada sahabatnya, yaitu empo Rua. Waktu itu empo Rua
tidak memiliki mangga tetapi ada cara lain, yaitu dia menyuruh nenek Niri
menggali batu di salah satu tempat, untuk diberikan kepada istrinya namanya
Watu Topak. Watu Topak masih digunakan oleh manusia sekarang. Manusia dengan empo Rua
ini sudah hidup rukun. Waktu meninggal orang menguburkanya di Golo Geleng atau
Golo Ngengur. Supaya mudah diingat, maka diukirlah dua buah batu untuk ditanam
di atas pekuburan empo Rua dan batu tersebut masih ada sampai saat ini.
Komentar
Posting Komentar