Situs Cagar Budaya Watu Kolang

 Watu Kolang


      Watu Kolang merupakan sebuah Batu peninggalan bersejarah yang terletak di Desa Sompang Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Jarak yang ditempuh untuk mencapai batu yang bernilai historis ini kurang lebih 90-an Km dalam waktu kurang lebih 4 jam dari Labuan Bajo, Ibu Kota Manggarai Barat. Rute perjalanannya, yaitu dari Labuan Bajo melewati jalur trans flores, belok kiri di persimpangan Wol, menelusuri ruas jalan kabupaten, yaitu Wol-Datak-Desa Sompang Kolang. Areal perkebunan dan persawahan serta hutan menjadi panorama utama sepanjang perjalanan. Masyarakat di sepanjang jalan menuju lokasi situs bermata pencaharian utama berkebun. 

Diceritakan bahwa asal muasal Situs Watu Kolang adalah Pesau. Dia, leluhur orang Kolang. Dia merupakan tokoh terpenting dan utama dalam sejarah asal muasal Situs Watu Kolang. Watu Kolang merupakan batu keramat untuk semua warga kampong Kolang dan keturunannya. Dalam kisahan sejarah orang Kolang bahwa Pesau berasal dari Minangkabau-Sumatera. Pesau datang dari Minangkabau berbekal sebuah keris sakti dan jimat sakti. Jimat sakti itu merupakan petunjuk arah yang telah mengantarkan Pesau sampai di Kampong Kolang. Mereka berlayar menuju Warloka dengan menggunakan perahu layar. Perjalanan ini diawali Pesau dengan sumpah bahwa “jika dalam perjalanannya dia melewati sebuah kali atau sungai dan jimat sakti yang dibawanya terasa panas, maka ia akan berhenti dan menetap di tempat tersebut". Lalu Pesau pun mulai melakukan perjalanan yang panjang ini dengan berjalan kaki mulai dari Warloka dengan mendaki gunung menuju ke kampung Rareng dan meneruskan perjalanannya ke Tonggong Ngaet lalu ke Liang Tebeh. Dari Liang Tebeh ia melanjutkan perjalanannya ke Golo Ndang dan melewati Golo Nggesik terus ke Tonggong Puing sebelum masuk ke Golo Lewe. Dari Golo Lewe ia menuju Barang Nangih dan akhirnya menuruni lembah menuju Lonta (salah satu lingko milik orang Kolang). Sejak perjalanan dari Werloka sampai di Lonta tak sekalipun Pesau melewati sungai. Setelah memasuki Lonta Pesau pun terus melewati lembah lalu akhirnya sampai pada sebuah sungai yang sekarang bernama Wae Poke. Pada saat Pesau melewati Wae Poke jimat sakti yang dibawanya terasa panas, maka sesuai dengan sumpahnya beliau pun menghentikan perjalanannya. Lalu diletakkannya jimat itu di atas sebuah batu yang berbentuk bulat telur. Batu itu kemudian digunakan oleh Pesau sebagai altar persembahan (watu taking) kepada yang kuasa dan juga bagi arwah leluhurnya di Minangkabau. Batu “altar persembahan” inilah yang kini dikenal sebagai Watu Kolang. Bagi warga Kolang dan semua keturunananya, Watu Kolang dipandang sebagai batu keramat karena diyakini memiliki kekuatan gaib dan sakti. Konon ceritanya apabila orang yang melintasi dan membuang kotoran di atas batu tersebut, maka akan terjadi hal yang sangat tidak diinginkan, seperti sakit, kulit bersisik bahkan bisa berujung kematian. Selain diceritakan oleh tokoh adat masyarakat Kolang juga telah dituturkan oleh tokoh adat kampung tetangga seperti orang Lenga, yang konon tinggal bersama mendiami Kampong Kolang. Salah satu bukti kuat bahwa orang Kolang pernah tinggal bersama dengan orang Lenga, terdapat sebuah batu di halaman Kampung Kolang, yaitu Watu Lenga. Karena alasan tersebut maka Watu Kolang pun diangkat dari tempat semulanya, yaitu di samping salah satu batu besar di tengah Kampong Kolang untuk kemudian diletakkan di atas sompang. Hingga saat ini seluruh keturunan Pesau dan siapapun yang datang untuk coba melewati batu tersebut merasa takut. Kampung Kolang sebelumnya bernama Kea. Dia diberi nama Kolang pada saat Pesau masuk di kampung tersebut. Nama Kolang muncul bersamaan dengan adanya Watu Kolang. Jadi nama Kolang ada sejak jaman Pesau. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa nama Kolang itu ada berdasarkan jimat bola api yang dibawa oleh Pesau yang terasa panas ketika melewati Wae Poke. Panas dalam bahasa Manggarai adalah 'kolang'. Ketika meninggal dunia menurut sejarahnya Pesau dimakamkan bersama keris dan jimat saktinya. Atas bantuan paranormal pada tahun 2007 kuburan Pesau pun ditemukan. Maka saat ini juga direncanakan untuk menggali kuburannya lalu dipugar dan dibuat jadi permanen. Namun sang penerawang pingsan saat penggalian mulai dilakukan. Kemudian dalam mimpinya Pesau meminta tumbal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan