Re'a

Saung Re'a (daun Pandan)

Pada masa lampau, jika ada tamu berkunjung ke rumah, hal pertama yang dilakukan orang tua-orang tua di Manggarai adalah membentangkan tikar. Setelah tikar-tikar dibentang, barulah para tamu dipersilakan untuk duduk, dilanjutkan dengan minum kopi dan berbincang.

Tikar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari orang Manggarai. Di kolong-kolong tempat tidur, di tiap rumah orang-orang Manggarai, pasti selalu ada satu atau dua tumpukan tikar. Tamu-tamu yang datang ke rumah, jika tidak duduk di atas kursi, pasti duduk di atas tikar yang disiapkan tuan rumah.

Apalagi jika dilaksanakan upacara adat tertentu, wajib hukumnya semua warga gendang (suku) duduk di atas tikar yang dibentangkan di hampir segala penjuru rumah gendang.

Sebagian besar kampung. kampung di Manggarai Barat memiliki tradisi menganyam tikar atau rojok loce. Terdapat tahapan proses pengerjaan yang sangat panjang, sebelum kumpulan daun-daun pandan itu berubah menjadi selembar tikar. Pertama- tama, setelah dipotong dari pohonnya atau ala re'a, duri- duri re'a segera dibersihkan dengan menggunakan pisau, lalu dihaluskan berulang kali menggunakan belahan bambu hingga lembut. Selanjutnya, digulung dan direbus hingga mendidih. Gulungan re'a direndam di air sungai yang sedang mengalir hingga satu malam, lalu dijemur. Setelah kering, dihaluskan sekali lagi dengan belahan bambu hingga semakin halus. Selanjutnya, disaat sesuai dengan ukuran tertentu dan diberi pewarna alam. Setelah proses ini barulah didapatkan kumpulan re'a yang siap untuk dianyam menjadi tikar.

Jika dibandingkan dengan wilayah bagian tengah dan timur, di wilayah Manggarai Barat produknya lebih bervariasi. Salah satu yang banyak dikembangkan adalah topi re'a yang saat ini menjadi salah satu suvenir andalan untuk para wisatawan. Sejauh ini, industri rumah tangga kerajinan topi re'a tersebar di beberapa tempat, seperti Kampung Nunang, Bambor, Kecamatan Sano Nggoang: Daleng, Kecamatan Lembor, Kampung Melo, Mamis, Kecamatan Mbeliling.


Saung Re'a (Pandan leaves)

In the past, if guests visited the house, the first thing the parents in Manggarai did was lay out a mat. After the mats were spread out, the guests were invited to sit down, followed by drinking coffee and chatting.

Mats are an inseparable part of the daily life of the Manggarai people. Under the bed, in every Manggarai house, there is always a pile or two of mats. Guests who come to the house, if not sitting on chairs, must sit on mats prepared by the host.

Moreover, if certain traditional ceremonies are held, it is obligatory for all members of the gendang (tribe) to sit on mats spread in almost all corners of the gendang house.

Most villages. Villages in West Manggarai have a tradition of weaving mats or rojok loce. There is a very long process of processing, before the collection of pandan leaves turns into a mat. Firstly, after being cut from the tree or ala re'a, the thorns of the re'a are immediately cleaned using a knife, then smoothed repeatedly using a split piece of bamboo until soft. Next, roll it up and boil it until it boils. The rolls of re'a are soaked in flowing river water for up to one night, then dried in the sun. Once dry, smooth it again with a bamboo slit until it is smoother. Furthermore, when it fits a certain size and is given natural coloring. After this process, a collection of re'a is obtained which is ready to be woven into a mat.

When compared with the central and eastern regions, in the West Manggarai region the products are more varied. One thing that has been widely developed is the re'a hat, which is currently one of the mainstay souvenirs for tourists. So far, the home industry of re'a hat crafts is spread in several places, such as Kampung Nunang, Bambor, Sano Nggoang District: Daleng, Lembor District, Melo Village, Mamis, Mbeliling District.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan