Musik Tradisional Manggarai
Karakter Musik Orang Manggarai
Ada empat hal penting yang perlu dibicarakan berkaitan dengan karakter musik orang Manggarai.
Pertama, musik Manggarai berdasarkan jenis lagu saat penggunaan atau cara membawakan lagu. Ada sebelas penjelasan untuk hal ini.
1. Pekikan (renggas) adalah pekikan awal dalam bentuk aba-aba atau komando.
2. Lagu duka adalah nyanyian yang dibawakan untuk meratapi seseorang yang telah meninggal dunia atau nyanyian yang dibawakan saat peristiwa duka (kematian) Beberapa contoh lagu duka adalah lorang (ratapan), dere ceha kila (lagu yang dinyanyikan pada malam hari perkabungan sambil melakukan permainan saling menyembunyikan gelang tangan), lagu bilang latung (lagu yang dinyanyikan pada malam hari perkabungan sambil melakukan permainan 'menghitung jagung)
3. Lagu mbata yang dinyanyikan sambil duduk di dalam rumah adat. Lagu sanda yang dinyanyikan sambil mengentakkan kaki di dalam rumah.
4. Lagu berkisah/bersejarah (dere turo, dere nunduk) adalah lagu yang berisikan kisah atau sejarah masa lalu.
5. Dere embong adalah lagu yang dinyanyikan sambil menggendong anak.
6. Letu (letu le) adalah alunan nada yang dihasilkan dari permainan sunding tongkeng (suling tegak lurus) dengan menggunakan teknik pernapasan yang khas.
7. Pada zaman dahulu, orang Manggarai biasa memainkan letu pada malarn hari, tengah malam, atau menjelang pagi. Para pemain letu biasanya memainkan letu terutama untuk mengungkapkan rasa kesedihan yang mendalam dan mengenang para leluhur atau nenek moyang.
8. Lagu nikah (wagal). Ada dua jenis lagu yang dinyanyikan saat upacara pernikahan orang Manggarai, yaitu derepodo/ dere curu (lagu yang dinyanyikan saat mengantar pengantin perempuan oleh pihak keluarga perempuan ke rumah/ kampung pengantin laki. laki atau saat menjemput pengantin perempuan oleh pihak keluarga laki-laki), dan dere sompo ata molas (lagu yang dinyanyikan sambil memangku pengantin perempuan untuk diantar dan diperkenalkan kepada pengantin laki-laki dan keluarganya)
9. Lagu kerja, yaitu roko molas poca, pongo/ponte latung. pante tuak. Lagu roko molas poco adalah lagu yang dinyanyikan sambil memikul kayu yang akan dijadikan tiang tengah/utama rumah adat. Dere pongo latung adalah lagu yang dinyanyikan sambil mengikat jagung. Dere pante tuak adalah lagu yang dinyanyikan sambil memukul beberapa cabang pohon enau seakan 'merayu' agar mengeluarkan air tuak (arak).
10. Lagu ritus adalah lagu saat ritual keagamaan, yaitu dere sae/lilik kaba (lagu yang dinyanyikan sambil mengelilingi seekor kerbau), dere ongko (lagu persatuan yang dinyanyikan saat berkumpul bersama keluarga besar), dere congka lesong/ congka sebela (lagu yang dinyanyikan sambil menari di sekitar tiang tengah rumah adat dan dinyanyikan
setelah menyembelih seekor babi persembahan sebagai ungkapan syukur). dere osong (lagu yang dinyanyikan saat sebelum berangkat berperang). dere tel kaba (lagu yang dinyanyikan saat jelang menyembelih kerbau)
11. Lagu caci adalah lagu yang dinyanyikan saat permainan caci (tarian permainan saling mencambuki), yaitu ronda/ sewule/roeng (nyanyian sambil melangkah maju), embong larik/ dejung larik (nyanyian saat setelah dicambuki lawan), danding/dende/ ningkung (nyanyian sambil mengentak kaki dan membentuk lingkaran untuk menyemarapermainan coc/). Kedua, terkait karakter musik orang Manggaral sebagai struktur lagu. Ada beberapa struktur berlagu orang Manggarai, yaitu cako (solo), mara (selingan). cual (nyanyian oleh beberapa solis), wale (jawaban setelah solo/ beberapa solis), ledo/ lego(selesal untuk satu bagian atau selesal seluruhnya), redu (selesai untuk satu bagian lagu menuju akhir lagu), dan poko (memotong. menyambar pada ketukan atau pada suku kata tertentu).
Ketiga, irama musik orang Manggarai. Ada beberapa jenis irama musik orang Manggarai, yaitu kedendit/takitu gelang, takitu/tutung. ndundundake, concong/ concososo, redep/ongga sa, sanda, mbata/tator, tako latung data.
Keempat, karakteristik nada. Orang Manggarai memiliki musik vokal didasarkan ruang nada', dengan nada "nada C sangat khas, seperti pentatonik anhemitoni, pentatonik hemitonis, trinada, dan tetranada.
The Character of Manggarai People's
Music
There are four important things that need to be discussed
regarding the musical character of the Manggarai people.
First, Manggarai music is based on the type of song used or how
the song is performed. There are eleven explanations for this.
1. A screech (renggas) is an initial screech in the form of a
signal or command.
2. Mourning songs are songs sung to mourn someone who has died or
songs sung during a mourning event (death). Some examples of mourning songs are
lorang (wailing), dere ceha kila (songs sung on the night of mourning while
playing games with each other hiding wrist bracelets), the song katakan latung
(a song sung on the eve of mourning while playing the game 'counting corn)
3. The mbata song is sung while sitting in a traditional house.
Sanda songs are sung while stomping their feet in the house.
4. Narrative/historical songs (dere turo, dere nunduk) are songs
that contain stories or history from the past.
5. Dere embong is a song sung while holding a child.
6. Letu (letu le) is a sound produced by playing the sunding
tongkeng (perpendicular flute) using a special breathing technique.
7. In ancient times, Manggarai people used to play letu in the
evening, midnight or early morning. Letu players usually play letu mainly to
express deep feelings of sadness and remember ancestors or forefathers.
8. Wedding song (wagal). There are two types of songs sung during
Manggarai wedding ceremonies, namely derepodo/ dere curu (songs sung when
taking the bride by the woman's family to the groom's house/village or when
picking up the bride by the man's family), and dere sompo ata molas (a song
sung while holding the bride on her lap to be escorted and introduced to the
groom and his family)
9. Work songs, namely roko molas poca, pongo/ponte latung. pante
palm wine. The song Roko Molas Poco is a song sung while carrying the wood that
will be used as the central/main pillar of a traditional house. Dere pongo
latung is a song sung while tying corn. Dere pante tuak is a song sung while
hitting several palm tree branches as if 'wooing' them to produce palm wine
(wine).
10. Rite songs are songs during religious rituals, namely dere
sae/lilik kaba (songs sung while circling a buffalo), dere ongko (unity songs
sung when gathering with extended family), dere congka lesong/congka sebela
(songs sung while dancing around the central pillar of the traditional house
and singing
after slaughtering a pig as an expression of thanksgiving). dere
osong (a song sung before leaving for war). dere tel kaba (a song sung before
slaughtering a buffalo)
11. The caci song is a song sung during the caci game (a game
dance of whipping each other), namely ronda/ sewule/roeng (singing while
stepping forward), embong larik/ dejung larik (singing after being whipped by
an opponent), danding/dende/ ningkung ( singing while tapping your feet and
forming a circle to encourage the COC game). Second, related to the character
of Manggaral music as a song structure. There are several Manggarai song
structures, namely cako (solo), mara (interlude). cual (singing by several
soloists), wale (answer after a solo/several soloists), ledo/lego (finished for
one part or finished completely), redu (finished for one part of the song
towards the end of the song), and poko (cutting. grabbing at beats or on
certain syllables).
Third, the rhythm of the Manggarai people's music. There are
several types of musical rhythms of the Manggarai people, namely
kedendit/takitu bracelet, takitu/tutung. ndundundake, concong/ concososo,
redep/ongga sa, sanda, mbata/tator, tako latung data.
Fourth, tone characteristics. The Manggarai people have vocal
music based on space notes, with very typical C notes, such as anhemitonic
pentatonic, hemitonic pentatonic, tritone, and tetratone.
Komentar
Posting Komentar