Rumah Adat Manggarai (Mbaru Gendang)
Mbaru Gendang
Rumah adat orang Manggarai disebut Mbaru tembong atau Mbaru gendang atau tambur. Jadi, secara harafiah, Mbaru artinya rumah. Tembong artinya alat musik tradisional (gong dan gendang). Mbaru Tembong artinya rumah tempat terselenggaranya acara adat dan tempat penyimpanan alat musik tradisional seperti gong dan gendang. Alat musik Gong digunakan untuk memanggil warga kampung dalam rangka acara musyawarah umum warga kampung. Ikhwal ini mengisyaratkan bahwa dinamika hidupnya, orang Manggarai dekat dan akrab dengan musik. Manggarai dipandang sebagai manusia seni. Musik bagian dari jiwa. Musik memiliki aneka fungsi dalam berbagai unsur kehidupan masyarakat Manggarai, seperti dalam permainan dan tarian, perkawinan adat, upacara kematian, meneguhkan kepercayaan dalam berbagai upacara adat dan merayakan panen serta pergantian tahun.
Dalam tatanan kehidupan orang Manggarai sejak dahulu kala bergerak dalam dua sumber filosofis ini, yaitu tentang apa adanya (Das Sein): Hal-hal yang penuh dengan realita kehidupan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia. Tentang bagaimana seharusnya (Das Sollen), yaitu kehidupan yang penuh dengan dunia cita-cita, dan karena terpupuk sikap kerja keras untuk dapat mewujudkan hal-hal yang masih berada di dunia cita-cita menjadi dunia realita. Kedua sumber filosofis tata kehidupan itu diwujudkan dalam logo rumah adat orang Manggarai pada setiap kampung (Beo atau Golo) terutama pada rumah Gendang (Mbaru Tembong). Jenis dan makna logo itu adalah pada puncak (bubung) rumah adat (tampak luar) terpampang Tiga Simbol Utama, yaitu Periuk persembahan (lewing), tanduk kerbau (rangga kaba), dan atap ijuk (wunut)
Periuk Persembahan
Simbol keyakinan sekaligus penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan yang menjadikan (Mori jari dedek, tanan wa awangn eta, pukul parn agu kolep, ulun le wain lau artinya Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan penjadi dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makluk serta alam raya), sekaligus untuk roh-roh yang mengganggu kehidupan manusia. Sejak nenek moyang diyakini, bahwa Mori jari dedek senantiasa ada, tetapi ia tidak dapat dilihat oleh manusia, oleh karena itu Mo jari dedek harus senantiasa disembah, diberi makan supaya tidak marah (kudut wa nain mori jari) kepada manusia, sehingga manusia bisa selamat dan tentram. Karena diyakini Mori Jari Dedek di tempat, yang tertinggi, maka pada puncak bubungan rumah itulah tempat bahwa si jari dedek senantiasa tertinggi dan harus selalu ditinggikan. Oleh karena itu, pula dalam seluruh siklus kehidupan orang Manggarai, selalu menempatkan Mori jari dedek dalam segala hal, karena diyakini bahwa dalam segala hal adalah eka Tuhan (In Principio Erat Deus). Disamping itu, juga diyakini adanya roh (jing, darat, potiwolo, kaka tana) yang selalu mengganggu kehidupan manusia, karena itu mereka juga disembah (takung).
Tanduk Kerbau (Rangga Kaba)
Simbol prinsip kemanusiaan, yaitu nilai kemanusiaan; tetapi kemanusiaan dalam hal ini bukan kemanusiaan yang adil dan beradap saja, tetapi lebih mengandung makna cita-cita, karena nenek moyang orang Manggarai sangat mendambahkan (bercita-cita/idiologi) agar keturunanya kuat seperti fisik kerbau. Disamping idiologi seperti itu, juga merupakan simbol suka bekerja keras, sebab kerbau erat sekali hubungannya dengan orang Manggarai, baik sebagai pembantu tenaga kerja bajak sawah (kalek) maupun untuk membantu pikul beban serta jaminan untuk bayar belis.
Konsepsi idiologis dimaksud juga tertuang dalam ungkapan- ungkapan (goet-goet) seperti :
Yang berdimensi kesehatan, antara lain:
Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala artinya hidup / tinggi sampai di bintang di langit. Cimar neho rimang, cama rimang rana kekar kuat seperti batang juk dari jenis pohon enau (aren) yang bertumbuh subur. Kimpur neho kiwung, cama kiwung lopo artinya tebal kuat keras membesi seperti batang pohon enau (aren) yang berusia tus yang sulit termakan oleh parang atau kapak. Neka nepo leso, neka ringing tis artinya jangan Lekang karena teriknya sinar matahari, jangan demam karena hujan rintik.
Yang berdimensi Ekonomi, antara lain:
Wake celern wa, saung bembang ngger eta artinya ekonomi yang kuat, mapan dan mampu menolong sesama karena memiliki persediaan- lebih dari cukup. Ngger laus hentet, ngger cees mbehok artinya enyalah kelaparan, kemarilah hai hasil berlimpah. Ako neka lako, lalap neka lanta mengetam padi tidak berpindah tempat/tidak beranjak karena panen sangat padat. Ahir neho laing, cama laing lau tacik artinya padi berlimpah bagaikan tumpukkan pasir di laut. Kaing dani, poro tepo tangang redong gak tangang nara artinya tempat penampungan hasil harus sampai patah semua kayu besi (semua tempat penyangga hasil yang terdiri dari kayu keras, seperti besi, harus bisa patah berantakan). Wendo le lawo ba kole, canga le kaka ba kole artinya kalau hasil dibawa lari oleh tikus, supaya tikus mengantar pulang curian itu, kalau burung-burung membawa lari hasil, supaya burung-burung itu mengembalikannya.
Atap Ijuk
Atap ijuk membulat yang menyatu antara urat tali ijuk bersama batang lidinya yang ditopangi oleh kuda-kuda (kinang). Sebagai simbol persatu dan kesatuan yang kukuh, kuat tak terpisahkan (nilai persatuan dan kesatuan yang tak terpisahkan/bulat dan utuh).
Nilai persatuan dan kesatuan ini menjiwai seluruh aktivitas sosial. Hal tersebut selalu diungkapkan baik sebagai nasihat (mendidik maupun memotivasi melalui goet-goet antara lain: Nai ca anggit, tuka ca leleng artinya kesatuan aksi atau seia sekata, dan satu konsepsi. Ca natas bate labar, ca uma bate duat; ca wae teku; agu ca mban bate kaeng, satu halaman tempat bermain/bercanda ria bersama, satu kebun (lingko) tempat kerja/bertani bersama, satu rumah tinggal. Lengkes para le, woleng wongka one artinya satu pintu keluar masuk rumah tinggal tetapi beda kamar sesuai jumlah kepala keluarga. Dalam lagu-lagu, banyak yang mengandung nilai pendidikan untuk menyerukan betapa maha pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan; terungkap lewat kata-kata (goet) lagu Kolong, lagu endong antara lain: Ema agu anak neka woleng bantang artinya Bapak dengan anak jangan beda pendapat. Ase agu kae neka woleng tae artinya sanak saudara/ adik dengan kakak tidak boleh berbeda pendapat. Ema agu anak neka woleng bantang, ase agu kae neka woleng tae artinya Bapak dengan anak, adik dengan kakak jangan berbeda pendapat, supaya tidak dicerita orang nama baik keluarga (supaya nama baik tidak tercemar). Goet yang bersifat Metaphora antara lain:
Nakeng ca wae, neka woleng kaeng artinya Ikan se kali (satu air sungai) supaya tidak tinggal terpisah. Ipung ca tiwu, neka woleng inggut artinya Ikan ipung satu kolam. supaya tidak tinggal berpisah.Teu ca ambok, neka woleng jaong artinya Tebu serumpun tak boleh berbeda pendapat. Muku ca puu, neka woleng curup artinya pisang serumpun jangan beda pendapat. Cama lewang ngger peang, cama poe ngger one artinya sama-sama menjaga kekompakan dalam semua urusan baik ke dalam maupun ke luar. Neka acu ngong wau, neka kode ngong woe artinya jangan berlaku kasar, seperti anjing dan kera terhadap famili atau sanak saudara/ keluarga besar; berlakulah sopan santun terhadap siapa saja: hendaklah senantiasa sopan dalam perilaku, santun dalam berbahasa. Pio-pio wale io artinya Sopan santunlah dalam menjawab sesuatu. Ngger wa ata da'atn, ngger eta ata di'an artinya kuburkanlah/tekanlah sedalam-dalamnya semua kejelekan orang, junjunglah tinggi-tinggi.
Ujung kayu atap bagian dalam(lobo kinang)
Ujung kayu atap bagian dalam (lobo kinang) menuju titik puncak hubungan rumah juga melambangkan loyalitas kepada puncak pimpinan, kesatuan komando, termasuk kepanahan terhadap Mori Jari Dedek, karena ujung kinang-kinang itu bertumpu pada batas bawah periuk persembahan.
Siri Bongkok (tiang tengah sebagai pusat topangan)
Dalam rumah adat, ada Siri Bongkok (tiang tengah sebagai pusat topangan) sebagai simbol pemimpin, berada di tengah-tengah, tempat segala sesuatu urusan disampaikan, pemimpin sekaligus penopang pembela dan penegak keadilan dan kesejahteraan.
Dari tiga simbol pada bagian luar dan dua simbol pada bagian dalam, kelimanya merupakan satu-kesatuan yang bulat dan utuh, namun yang sangat menonjol dalam mempengaruhi tata kehidupan sehari-hari adalah nilai persatuan dan kesatuan, selain nilai religiusitas.
Inilah keunikan nilai-nilai adat yang berlaku turun-temurun bagi orang Manggarai. Kuatnya peranan nilai persatuan dan kesatuan ditandai oleh satunya uma bate duat, natas bate labar, wae bate teku, mbaru bate kaeng (satu kebun, satu halaman, satu mata air, dan satu rumah).
Mbaru Gendang
The traditional house of the Manggarai people is called Mbaru Tembong or Mbaru Gendang. So, literally, Mbaru means home. Tembong
means traditional musical instruments (gongs and drums). Mbaru Tembong means
the house where traditional events are held and where traditional musical
instruments such as gongs and drums are stored. The gong musical instrument is
used to summon village residents in the context of a general village community
meeting. This matter suggests that in the dynamics of their lives, Manggarai
people are close and familiar with music. Manggarai is seen as a man of art.
Music is part of the soul. Music has various functions in various elements of
Manggarai people's life, such as in games and dances, traditional marriages,
death ceremonies, strengthening beliefs in various traditional ceremonies and
celebrating the harvest and the new year.
In the
life order of the Manggarai people, since time immemorial, they have moved in
these two philosophical sources, namely about what is (Das Sein): Things that
are full of the reality of life in accordance with their existence as humans.
About how it should be (Das Sollen), namely a life full of the world of ideals,
and because it is cultivated by an attitude of hard work to be able to realize
things that are still in the world of ideals into a world of reality. These two
philosophical sources of life are embodied in the logo of the Manggarai
traditional house in each village (Beo or Golo) especially in the Gendang house
(Mbaru Tembong). The type and meaning of the logo is that at the top (roof) of
the traditional house (outside view) there are three main symbols, namely the
offering pot (lewing), buffalo horns (rangga kaba), and palm fiber roof
(wunut).
Offering
Pot
A symbol
of belief as well as respect and worship to God who made (Mori finger dedek,
tanan wa awangn eta, at parn agu kolep, ulun le wain lau means God, creator of
heaven and earth and everything in it, God is the creator and shaper of human
life and all creatures and nature raya), as well as for spirits that disturb
human life. Since the ancestors believed, that Mori finger dedek is always
there, but he cannot be seen by humans, therefore Mo finger dedek must always
be worshiped, fed so that he does not get angry (kudut wa nain mori radius)
with humans, so that humans can be safe and peace. Because it is believed that
Mori Dedek's finger is in the highest place, then at the top of the ridge of
the house that is the place where Dedek's finger is always highest and must
always be raised. Therefore, in the entire life cycle of the Manggarai people,
they always put Mori's finger on everything, because it is believed that in
everything there is one God (In Principio Erat Deus). Apart from that, it is
also believed that there are spirits (jing, land, potiwolo, kaka tana) that
always disturb human life, therefore they are also worshiped (takung).
Buffalo
Horn (Rangga Kaba)
Symbol
of humanitarian principles, namely human values; but humanity in this case is
not just a just and civilized humanity, but rather contains the meaning of
ideals, because the ancestors of the Manggarai people really wanted
(aspired/idiology) for their descendants to be physically strong like buffalo.
Apart from this ideology, it is also a symbol of hard work, because buffalo are
closely related to the Manggarai people, both as helpers for plowing rice
fields (kalek) and to help carry loads and provide collateral to pay for belis.
The
ideological conception referred to is also contained in expressions (goet-goet)
such as:
Those
with a health dimension include:
Uwa
haeng wulang, legas haeng ntala means life / high up to the stars in the sky.
Cimar neho rimang, cama rimang rana is stocky and strong like a juk trunk from
a type of palm tree that grows abundantly. Kimpur neho kiwung, cama kiwung lopo
means thick strong hard iron like the trunk of an old palm palm tree which is
difficult to be eaten by a machete or axe. Neka nepo leso, neka ringing tis
means don't get tired because of the hot sun, don't get fever because of the
light rain.
With an
economic dimension, including:
Wake
celern wa, saung bembang ngger eta means a strong, well-established economy and
able to help others because it has more than enough supplies. Ngger laus
hentet, ngger cees mbehok means get rid of hunger, come here, abundant harvest.
Ako neka lako, lalap neka lanta harvesting rice does not move/does not move
because the harvest is very dense. Ahir neho laing, cama laing lau tacik means
abundant rice like a pile of sand in the sea. Kaing dani, poro tepo Tangang
Redong, Gantang Nara means that the produce storage area must be broken, all
iron wood (all produce storage containers that consist of hard wood, such as
iron, must be able to break apart). Wendo le lawo ba kole, canga le kaka ba
kole means that if the rats carry away the proceeds, then the rats will take
the stolen goods home, if the birds carry away the proceeds, then the birds
will return it.
Thatch roof
The roof
of the palm fiber is rounded which combines the fibers of the fiber rope with
the sticks which are supported by horses (kinang). As a symbol of unity and
unity that is strong, strong and inseparable (the value of unity and integrity
that is inseparable/whole and complete).
This
value of unity and unity animates all social activities. This is always
expressed both as advice (educating and motivating through goet-goet,
including: Nai ca anggit, tuka ca leleng meaning unity of action or one thing,
and one conception. Ca natas bate Labar, ca uma bate duat; ca wae teku; agu ca
mban bate kaeng, one yard where you can play/joke together, one garden (lingko)
where you work/farm together, one house to live in. Lengkes para le, woleng
wongka one means one entrance and exit to the house but different rooms
according to the number of heads family. In the songs, many contain educational
value to exclaim the great importance of unity and oneness in togetherness;
expressed through the words (goet) of the Kolong song, endong songs include:
Ema agu anak neka woleng bantang meaning father and child don't different
opinions. Ase agu kae neka woleng tae means relatives/sisters and older
brothers should not have different opinions. Ema agu anak neka woleng bantang,
ase agu kae neka woleng tae means father and child, brother and sister should
not have different opinions, so that people don't tell family good name (so
that the good name is not tarnished). Goets that are metaphorical include:
Nakeng
ca wae, neka woleng kaeng means Fish once (one river water) so that you don't
stay separated. Ipung ca tiwu, neka woleng inggut means Ipung fish in one pond.
so that you don't stay apart. Teu ca ambok, neka woleng jaong means Tebu
cognates cannot have different opinions. Muku ca puu, neka woleng curup means
banana cognate, don't differ in opinion. Cama lewang ngger peang, cama poe
ngger one means both maintaining unity in all matters both internally and
externally. Neka acu ngong wau, neka code ngong woe means don't act rudely, like
dogs and monkeys towards your family or relatives/extended family; Be polite to
everyone: always be polite in behavior, polite in language. Pio-pio wale io
means be polite when answering something. Ngger wa ata da'atn, ngger eta ata
di'an means bury/repress as deeply as possible all the ugliness of people, hold
it high.
The end
of the inner roof wood (lobo kinang)
The
wooden tip of the inner roof (lobo kinang) towards the top point of the house
connection also symbolizes loyalty to the top leadership, unity of command,
including archery towards Mori Jari Dedek, because the tip of the kinang-kinang
rests on the bottom border of the offering pot.
Siri
Hunchback (middle pole as the center of support)
In
traditional houses, there is the Siri Hunchback (the central pillar as the
center of support) as a symbol of the leader, in the middle, where all matters
are conveyed, the leader and supporter of the defenders and enforcers of
justice and prosperity.
Of the
three symbols on the outside and the two symbols on the inside, the five are
one complete and complete whole, but what really stands out in influencing
daily life is the value of unity and oneness, apart from the value of
religiosity.
This is
the uniqueness of the traditional values that have been passed down from
generation to generation among the Manggarai people. The strong role of the
values of unity and oneness is indicated by the only uma bate duat, natas bate
Labar, wae bate teku, mbaru bate kaeng (one garden, one yard, one spring and
one house).
Komentar
Posting Komentar