Seni Memahat Patung Komodo
Patung Komodo
Sebagian orang akan mengira bahwa orang-orang pulo pulau), sebutan warga Labuan Baja untuk sesama saudaranya yang menghuni gugusan pulau kecil, menggantungkan hidupnya dari laut dengan bermata pencaharian sebagai nelayan. Pikiran seperti itu muncul, sebab rata-rata hasi laut (ikan, cumi, udang) yang memenuhi lapak tapak di pasar-pasar di Kota Labuan Bajo, merupakan hasil tangkapan orang-orang) pulo. Bahkan, sebagian
dari hasil tangkapan laut tu juga menjadi salah. satu penyangga lauk pauk masyarakat kota dingin Ruteng-kota tetangga, sebelah timur Labuan Bajo Setiap hari, puluhan) mobil pikap, atau populer dengan sebutan oto ikon siap mengangkut ikan dari Labuan Bajo menuju Kota Ruteng dan beberapa kota kecil di sekitarnya.
Tak banyak yang tahu, bahwa menjadi perajin patung Komodo merupakan bagian penting dari kebudayaan ata Moda suku yang mendiami Kampung Komodo di Pulau Komodo: Umumnya mereka memanfaatkan area kosong di samping, depan. atau kolong rumah sebagai tempat berusaha. Hingga kini Jumlah mereka mencapai 67 orang yang terbagi dalam tiga kelompok kerja yaitu kelompok Gunung Ara, kelompok ina Matrea, dan kelompok Kakomo Patung-patung komodo kanya mereka dijual sebagai suvenir yang siap dibeli para wisatawan yang berkunjung ke Loh Liang Pulau Komodo.
Awal kisah seni patung menjadi bagian dari kebudayaan ata Modo dimulai pada medio 1960-an. Saat itu Walter Aufenberg, seorang peneliti biologi asal America Serikat yang meneliti satwa Komodo di p Pulau Komodo, merasa terpikat dengan seorang warga ata Modo yang membuat patung komodo la pun mendorong warga yang lain untuk menekuni keterampilan Sebab menurutnya. dalam beberapa tahun ke depan, Pulau Komodo akan ramai dikunjungi wisatawan untuk datang menyaksikan dari dekat keunikan satwa Komodo.
Pada era 1980-an, Haji Nuhung adalah salah seorang warga Kampung Komodo yang begitu tekun membuat patung komoda Seiring usianya yang tak muda lagi, ia pun mengajarkan bagaimana teknik memahat patung kepada anak serta kerabat terdekatnya. Merekalah yang kemudian mewariskan keterampilan ini kepada masyarakat ata Modo yang lain.
Sebagai sebuah karya seni. sebuah patung komodo biasanya dikerjakan dalam beberapa tahap. Ukuran patung sangat bervariasi. Mulai dari yang standar yang panjangnya mencapai 15-20 cm hingga yang paling besar yang mencapai 2.5 m.
Komodo Statue
Some people would think that the island
people), the term Labuan Baja residents call their fellow citizens who inhabit
a group of small islands, depend on the sea for their livelihood by making a
living as fishermen. Such thoughts arise, because on average the marine
products (fish, squid, shrimp) that fill the stalls in markets in Labuan Bajo
City, are the result of local people's catch. In fact, some
from sea catches is also wrong. a support for
side dishes for the people of the cold city of Ruteng, a neighboring city, east
of Labuan Bajo. Every day, dozens of pickup trucks, or popularly known as oto
icons, are ready to transport fish from Labuan Bajo to Ruteng City and several
small towns around it.
Not many people know that being a Komodo
statue craftsman is an important part of the culture or mode of the tribe that
inhabits Komodo Village on Komodo Island: Generally they use the empty area on
the side and front. or under the house as a place to do business. To date,
their number has reached 67 people, divided into three working groups, namely
the Gunung Ara group, the Ina Matrea group, and the Kakomo group. They sell
Komodo dragon statues as souvenirs that are ready to be purchased by tourists
visiting Loh Liang, Komodo Island.
The story of how sculpture became part of
Modo culture began in the mid-1960s. At that time, Walter Aufenberg, a
biological researcher from the United States who researched Komodo dragons on
Komodo Island, felt captivated by a resident of Modo who made a Komodo dragon
statue and encouraged other residents to pursue this skill because he thought.
In the next few years, Komodo Island will be busy with tourists coming to see
the uniqueness of Komodo animals up close.
In the 1980s, Haji Nuhung was one of the
residents of Komodo Village who was very diligent in making Komodo statues. As
he was no longer young, he also taught the technique of carving statues to his
children and closest relatives. They are the ones who then pass on these skills
to other Modo or community members.
As a work of art. A Komodo dragon statue is
usually done in several stages. The sizes of the statues vary greatly. Starting
from the standard ones which reach 15-20 cm in length to the largest ones which
reach 2.5 m.
Komentar
Posting Komentar