Tari Rangkuk Alu

Tari Rangkuk Alu

Description

Rangkuk alu merupakan sebuah permainan rakyat Manggarai, Permainan rakyat rangkuk alu terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok pemegang bambu dan kelompok penari. Kelompok pemegang bambu biasanya  6-8 orang. Mereka memainkan bambu sesuai dengan irama musik Gong dan Gendang.  Kelompok penari biasanya dalam jumlah yang terbatas  dan banyaknya sesuai dengan jumlah pemain bambu. Mereka menari secara bergantian di sela-sela bambu dengan mengikuti irama musik Gong dan Gendang. Kelompok pemegang bambu dan penari sama-sama mengenakan busana adat lengkap, seperti ikat kepala, baju mbero, dan kain songket Manggarai. Dalam permainan tersebut membutuhkan kelincahan dan ketangkasan agar terhindar dari jepitan bambu. Gelak tawa penonton pun tak terhindarkan jika salah satu penari terjepit kakinya. 


Type of Dance

Rangkuk alu termasuk salah satu jenis permainan tradisional masyarakat Manggarai Barat. Permainan ini tanpa melalui ritual adat. Dapat diatraksikan tidak hanya di halaman rumah adat, tetapi juga di tempat umum. 

Reprecent

Rangkuk alu merupakan sebuah permainan rakyat Manggarai raya, yaitu Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Permainan tradisional ini menjadi andalan di wilayah Manggarai raya.

History

Rangkuk alu terdiri atas dua kata, yaitu rangkuk dan alu. Rangkuk artinya bunyi hentakan yang dihasilkan dari kayu atau bambu yang beradu, sedangkan alu artinya batang kayu yang digunakan untuk menumbuk padi.  Ukurannya kurang lebih 1.5 m sampai dengan 2 m. 

Dulunya, rangkuk alu menggunakan alu atau batangan kayu tumbuk padi, namun belakangan ini menggunakan bambu yang ukurannya agak panjang di atas 2 m dan bunyinya agak kencang. Umumnya menggunakan bambu. 

Tarian ini awalnya merupakan sebuah permainan. Dalam permainan tersebut, bambu disusun dan dimainkan dengan cara diayun, seperti menjepit para pemain yang sedang melompat. Satu atau dua pemain melompat-lompat menghindari jepitan dari bambu tersebut. Saat melompat-lompat menghindari jepitan, pemain seolah-olah melakukan gerakan tari.  Penarinya mengikuti bunyi hentakan kayu atau bambu. Dari situlah awal terbentuknya gerakan dasar Tarian Rangkuk AluGerakan pemain bambu dan penarinya, kemudian dikreasikan dengan irama musik Gong, dan Gendang, serta lagu daerah sehingga menghasilkan sebuah seni yang khas.

Menurut tradisi, tarian ini biasanya ditampilkan saat usai panen raya, baik padi sawah maupun  padi ladang khususnya pada saat bulan purnama. Pada saat itulah para remaja berkumpul dan meramaikan acara ini. Mereka bermain dan menari dengan penuh kegirangan dan kegembiraan. Rakyat memainkannya dengan nada syukur atas anugerah Tuhan Yang takterhingga atas hasil panen yang dialaminya. Di samping itu, permainan ini juga sebagai ajang mencari jodoh.

Values

Nilai yang terkandung dalam pemainan rangkuk alu, yaitu nilai kekelurgaan, edukasi, dan spiritual

Choreography

Dalam pementasannya, tarian rangkuk alu ini dimainkan oleh para remaja, baik laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan pakaian adat, seperti retu, bali-belo. baju mbero, dan kain songket khas daerah Manggarai. Tari Rangkuk Alu ini  dimainkan oleh 6-8 orang pemegang bambu dan beberapa orang menari secara bergantian. Untuk memainkan bambu tersebut dipadukan dengan irama musik dan lagu, sehingga gerakan para penari pun bisa telihat seirama.

Untuk gerakan tarian ini, sebenarnya berasal dari gerakan para penari saat menghindari jepitan bambu, sehingga didominasi oleh gerakan kaki. Dalam tarian ini tentu membutuhkan kelincahan dan ketepatan untuk menghindari jepitan bambu. Apabila penari kurang lincah, maka akan terjatuh karena terjepit bambu. 

Uniknya lagi, dalam tarian ini penari tak hanya sekadar mengikuti ayunan bambu, tetapi juga alunan musik tradisional, seperti gong dan gendang. Selain itu, tarian ini juga diiringi nyanyian lagu daerah. Irama musik dan nyanyian disesuaikan dengan pemegang bambu, sehingga gerakan penari yang melompat pun jadi seirama.

Equipment

Dalam tarian rangkuk alu, perlengkapan yang disiapkan berupa batangan bambu atau kayu, gong dan gendang, kain songket Manggarai, baju putih dan celana panjang puith bagi laki-laki dan baju mbero bagi perempuan, retu, dan bali-belo, dan sejenisnya.


Rangkuk Alu Dance

Description

Rangkuk alu is a Manggarai folk game. The folk game Rangkuk Alu consists of two groups, namely the bamboo holder group and the dancing group. Bamboo holder groups are usually 6-8 people. They play bamboo according to the rhythm of Gong and Drum music. Dancing groups are usually limited in number and the number depends on the number of bamboo players. They dance alternately among the bamboo to the rhythm of Gong and Drum music. The group of bamboo holders and dancers both wore complete traditional clothing, such as headbands, mbero clothes and Manggarai songket cloth. This game requires agility and dexterity to avoid bamboo clamps. The audience's laughter is inevitable if one of the dancers gets caught in the leg.

Types of Dance

Rangkuk alu is one type of traditional game of the West Manggarai people. This game does not go through traditional rituals. It can be performed not only in traditional house yards, but also in public places.

Representative

Rangkuk alu is a folk game in Greater Manggarai, namely East Manggarai Regency, Manggarai Regency and West Manggarai Regency. This traditional game is a mainstay in the Greater Manggarai area.

History

Rangkuk alu consists of two words, namely rangkuk and alu. Rangkuk means a pounding sound produced by clashing wood or bamboo, while alu means a wooden stick used to pound rice. The size is approximately 1.5 m to 2 m. In the past, rangkuk alu used a pestle or rice-pounded wooden stick, but recently bamboo is used, which is quite long, more than 2 m and makes a rather loud sound. Generally using bamboo.

This dance was originally a game. In this game, bamboo is arranged and played by swinging, like pinning the players who are jumping. One or two players jump up and down to avoid the bamboo clamps. When jumping up and down to avoid pins, the player seems to be doing dance moves. The dancers follow the sound of hitting wood or bamboo. That's where the basic movements of the Rangkuk Alu Dance began to form. The movements of the bamboo players and dancers are then created with the rhythm of gong and drum music and regional songs to produce a unique art form.

According to tradition, this dance is usually performed after the harvest, both rice fields and rice fields, especially during the full moon. That's when teenagers gathered and enlivened this event. They played and danced with great joy and excitement. The people play it with a tone of gratitude for God's infinite grace for the harvest they have experienced. Apart from that, this game is also a place to find a mate.

Values

The values contained in the game of Rangkuk Alu are family, educational and spiritual values

Choreography

In the performance, the rangkuk alu dance is played by teenagers, both men and women, wearing traditional clothing, such as retu, bali-belo. berro clothes, and songket cloth typical of the Manggarai region. The Rangkuk Alu dance is played by 6-8 bamboo holders and several people dance alternately. To play the bamboo, it is combined with the rhythm of music and songs, so that the dancers' movements can be seen in rhythm.

The movements for this dance actually come from the movements of the dancers when avoiding bamboo clips, so they are dominated by leg movements. This dance certainly requires agility and precision to avoid bamboo clips. If the dancer is not agile enough, they will fall because they are caught in the bamboo.

What's unique is that in this dance the dancers not only follow the bamboo swings, but also traditional music, such as gongs and drums. Apart from that, this dance is also accompanied by singing regional songs. The rhythm of the music and singing is adjusted to the bamboo holder, so that the dancer's jumping movements are in rhythm.

Equipment

In the Rangkuk Alu dance, the equipment prepared is bamboo or wooden sticks, gongs and drums, Manggarai songket cloth, white shirts and white trousers for men and berro clothes for women, retu, and bali-belo, and the like.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan