Tenun Songke Manggarai
Tenun Songke Manggarai
Tenun songke Manggarai merupakan identitas umum tenun di wilayah Manggarai. Meski tidak semua wilayah mewarisi tradisi tenun, tenun songke telah menjadi kebanggaan bersama dan telah menjadi salah satu Identitas kebudayaan orang atau ata Manggarai.
Berbicara sarung tenunan Manggarai, umumnya ada 3 jenis, yaitu Songke, Lipa Todo, dan Lipa Punca. Lipa (sarung) Todo adalah tenunan asli masyarakat Todo Kecamatan Satar Mese Kabupaten Manggarai, sedangkan Lipa Punca adalah tenunan asli masyarakat wilayah Timur Kabupaten Manggarai Timur.
Motif Songke atau selendang bukanlah sembarang motif, tetapi motif-motif itu syarat makna pesan moral untuk orang Manggarai. Motif-motif dimaksud antara lain:
o Motif jok pada lindi (tepi) tenunan, yaitu berbentuk segitiga sama kaki yang mengandung makna/pesan moral supaya orang Manggarai senantiasa berpusat pada Allah Pencipta (Mori Jari Dedek atau Mori Wowo) dan mematuhi pemimpin sebagai simbol lodok dan menjunjung tinggi kesatuan motif rumah gendang yang mengandung multi makna selain persatuan dan kesatuan.
o Motif Ntola (Bintang), yaitu simbol ideologl/cita-cita orang Manggaral yang dengan kata-kata sebagal berikut: Uwa.hoeng wulong langkas haeng ntale. Motif ini menunjukan bahwa orang Manggaral memiliki cita-cita yang tingid dan supaya setiap orang Manggaral berupaya menggapai cita-cita itu.
o Motif ranggong (laba-laba), yaitu mengandung makna/pesan moral supaya orang Manggarai bekerja jujur, tekun dan mandiri dalam dinamika kehidupan. (Mandiri karena laba-laba tidak pernah melibatkan temannya atau pasangannya membuat sarang/jaringan)
o Motif sosor dan libo (pancuran dan kolam mini), yaitu simbol kesatuan dan saling menunjang/bekerja sama antara laki-laki dan perempuan serta saling membutuhkan dalam lintas kehidupan (sosor simbol laki-laki).
o Motif wela kaweng (bunga kaweng atau spesies perdu), yaitu simbol hutan sebagai penyangga kehidupan. (dulu kalau ternak luka karena sesuatu, maka obatnya wela kaweng). Kalau hutan merupakan penyangga kehidupan berarti orang Manggarai melalui motif wela kaweng dipesan leluhur untuk senantiasa menjaga/melestarikan hutan sebagai penyangga kehidupan.
Secara teknik, songke masuk kategori songket saat benang pakan dan pembentukan motif dirangkai pada waktu bersamaan. Umumnya sarung songke berwarna dasar gelap dan menggunakan aneka warna bermotif floral padat pada satu sisi sarung di Manggaral sarung songke ini bersebar di beberapa wilayah seperti Cibal, Lamba Leda, dan Ruis dengan motif khasnya tersendiri Songke Cibal terkenal dengan motif-motif kecil sedangkan songke Lamba Leda mencolok dengan motif-motifnya yang lebih besar. Songke Ruis dikenal dengan motif-motifnya yang lebih padat dengan tambahan benang emas yang glamor.
Salah satu motif songke dari Manggarai Barat yang cukup terkenal adalah mata manuk (mata ayam). Di Manggarai raya, ayam merupakan sarana yang digunakan dalam perayaan maupun ritual adat Manggarai. Ayam digunakan untuk merekatkan hubungan dengan sang Pencipta, Leluhur, dan sesama manusia. Ayam juga digambarkan sebagai bentuk kejantanan dan keberanian (manuk lalong merah).
Unsur-unsur yang terdapat dalam motif mata manuk adalah bibel, yang berbentuk trapesium dan mengelilingi mata manuk. Mata manuk biasanya berbentuk bundar telur, yang terdiri dari empat titik, yang menggambarkan ayam yang mampu melihat ke empat penjuru mata angin. Mata manuk terletak di tengah-tengah bibel atau trapesium. Warna motif mata manuk dapat dikombinasikan dengan warna putih, hitam, dan merah.
Selain Cibal, Lamba Leda, dan Ruis, tradisi menenun ini juga terdapat di beberapa tempat, seperti Lembor, Iteng, Rahong, Kolang serta kampung-kampung lainnya. Di daerah-daerah ini, tradisi menenun muncul dari hubungan kawin-mengawin, saat seorang perempuan dari keluarga penenun menularkan tradisi menenun di kampung suaminya. Selain itu, gerakan ekonomi yang didorong para misionaris Eropa di awal tahun 80-an juga mendorong pelatihan tenun di beberapa wilayah di Manggarai dengan mendatangkan penenun-penenun profesional dari Cibal dan Lamba Leda.
Tenun Todo adalah jenis tenun yang agak berbeda di Manggarai. Ciri yang paling khas, yang membedakan tenun Todo dengan tenun songke adalah pola garis tanpa motif. Desain umum tenun Todo menggunakan berang dasar berwarna merah yang dikombinasi dengan warna hitam hingga membentuk pola garis-garis sejajar yang disebut sul (Cibal). Di antara penenun dan orang-orang Todo, sarung ini dinamal sebagai towe kemumu. Namun, di khalayak umum sarung ini lebih banyak dikenal sebagai tenun todo yang merujuk pada nama Kampung Todo.
Di kampung Todo inilah diduga kreasi tenunan Todo dimulai sebelum menyebar ke kampung-kampung sekitar dan Manggarai umumnya. Dahulu, Todo adalah sebuah kerajaan kecil yang dibentuk Belanda sebelum Indonesia merdeka. Kampung adat Todo dengan ragam cerita tentang pengaruh Kerajaan Goa-Tallo juga terekam pada warna-warna tenun yang mirip dengan kain adat Sulawesi maupun Bima.
Tradisi Menenun di Manggarai
Umumnya, menenun dilakukan oleh perempuan di kampung-kampung. Dalam keluarga penenun, seorang anak perempuan wajib belajar menenun ketika menginjak usia di atas sepuluh tahun. Belajar menenun bisa dilakukan dengan mainan tenun-tenunan dari pelepah tuak, ataupun kalau beruntung mendapat benang-benang sisa dari potongan tenunan yang sudah selesai ditenun oleh orang dewasa.
Namun, anggapan yang mengatakan bahwa tenun semata-mata sebagai pekerjaan perempuan tak sepenuhnya benar. Pada era sebelum 1980, pandangan ini dengan mudah dibantah. Sebab pada tahun-tahun itu, dalam proses mengerjakan suatu tenunan yang memakan waktu cukup panjang, juga melibatkan laki-laki. Mulai dari penanaman kapas, panen, memintal benang, mencari bahan pewarna ke dalam hutan dan meracik warna. Laki-laki terlibat pada bagian membuat warna, membuat kapur tohor (bahan tambahan mordan dan fiksasi) dan masuk keluar hutan mencari bahan pewarna.
Menenun adalah proses paling akhir. Meski zaman sekarang, keterlibatannya tak lagi terlalu tampak. Tugas memasarkan kain lebih banyak dilakukan laki-laki. Dengan beredarnya benang pabrik, kaum perempuan bisa mempersingkat proses kerjanya secara mandiri sehingga menenun tidak hanya pekerjaan perempuan untuk konteks sekarang.
Songke dalam Tradisi Orang Manggarai
Songke adalah bagian penting dari kehidupan orang Manggaral. Ziarah panjang kehidupan orang Manggarai, sejak lahir hingga kematian pasti tidak dapat dipisahkan dari selembar kain songke. Songke berfungsi untuk menutupi (to cover). melindungi (to protect) dan menghormati/menghargai (to appreciate).
Sebagai penutup, songke Identik dengan kostum sehari-hari. Sama seperti di tempat lain di nusantara, songke diikat sebagai bawaan untuk perempuan dan laki- laki. Selain itu digunakan sebagai selimut untuk tidur, gendongan bayi atau alas tidur bayi, atau penutup di pemandian umum. Di zaman sekarang, songke tidak lagi sebatas sarung penutup, tetapi sudah diubah menjadi banyak produk turunan seperti baju, celana, dan jaket yang menutupi tubuh manusia. Sementara saat peristiwa kematian, sebagai ucapan perpisahan, anggota keluarga menutupi jenazah.
Tak saja sebagai penutup raga, songke juga menjadi kekuatan pelindung bagi jiwa-jiwa orang Manggarai. Saat seorang laki-laki Manggarai hendak menikah, ia pergi menghadap keluarga ibunya (anak rona sa'i), melaporkan serta meminta restu (tura lak pe'ang) bahwa dirinya akan segera menikah. Sebagai tanda restu, saudara-saudara dari ibunya akan memberikan selembar kain. Kelak, kain ini akan melindungi seluruh perjalanan rumah tangga dari keponakan mereka.
Orang Manggarai juga mempunyai tradisi melakukan ritual adat untuk menghalau peristiwa-peristiwa buruk yang diramalkan terjadi pada diri seseorang lewat mimpi. Bila mimpi itu terkait kehidupan seorang anak, pada saat acara adat, orang tua akan memberikan selembar kain sebagai pelindung bagi kehidupan sang anak.
Dalam kehidupan orang Manggarai, songke juga digunakan sebagai tanda untuk menghargai orang lain. Saat acara-acara penyambutan tamu, orang Manggarai akan memberikan selembar kain kepada sang tamu. Juga pada saat acara adat teing tinu (membalas jasa orang tua), anak-anak juga biasanya memberikan selembar kain kepada orang tua mereka sebagai ungkapan terima kasih telah membesarkan dan memberikan kehidupan.
Manggarai Songke Weaving
Manggarai songke weaving is a common
identity for weaving in the Manggarai region. Although not all regions have
inherited the weaving tradition, songke weaving has become a matter of shared
pride and has become one of the cultural identities of the Manggarai people or
ata.
Talking about Manggarai woven sarongs,
there are generally 3 types, namely Songke, Lipa Todo, and Lipa Punca. Lipa
(sarong) Todo is an original weave of the Todo people, Satar Mese District,
Manggarai Regency, while Lipa Punca is an original weave of the people of the
Eastern region of East Manggarai Regency.
The Songke or shawl motif is not just any
motif, but the motifs are requirements for the meaning of a moral message for
the Manggarai people. The motifs in question include:
o The seat motif on the woven lindi (edge),
which is in the shape of an isosceles triangle which contains a moral
meaning/message so that Manggarai people always focus on God the Creator (Mori
Jari Dedek or Mori Wowo) and obey the leader as a symbol of lodok and uphold
the unity of the drum house motif which contains multiple meanings besides
unity and oneness.
o The Ntola (Star) motif, which is a symbol
of the ideology/ideals of the Manggaral people with the following words:
Uwa.hoeng wulong Langkas Haeng Ntale. This motif shows that the Manggaral
people have high ideals and that every Manggaral person tries to achieve those
ideals.
o The ranggong (spider) motif, which
contains a moral meaning/message so that Manggarai people work honestly,
diligently and independently in the dynamics of life. (Independent because
spiders never involve their friends or partners in making nests/networks)
o Sosor and libo motifs (shower and mini
pool), namely symbols of unity and mutual support/cooperation between men and
women and needing each other throughout life (male symbols).
o Wela kaweng motif (kaweng flower or shrub
species), which is a symbol of the forest as a support for life. (In the past,
if livestock were injured by something, the medicine was wela kaweng). If the
forest is a support for life, it means that the Manggarai people, through the
wela kaweng motif, were ordered by their ancestors to always protect/preserve
the forest as a support for life.
Technically, songke is included in the songket category when the weft threads and the motif formation are assembled at the same time. Generally, songke sarongs are dark in color and use various colors with dense floral motifs on one side of the sarong. In Manggaral, songke sarongs are spread in several areas such as Cibal, Lamba Leda, and Ruis with their own distinctive motifs. Cibal songke is famous for its small motifs, while Lamba Leda songke striking with its larger motifs. Songke Ruis is known for its denser motifs with the addition of glamorous gold thread.
One of the songke motifs from West
Manggarai which is quite famous is the manuk eye (chicken eye). In Greater
Manggarai, chickens are a means used in Manggarai traditional celebrations and
rituals. Chickens are used to strengthen relationships with the Creator,
Ancestors, and fellow humans. Chickens are also depicted as a form of
masculinity and courage (manuk lalong red).
The elements contained in the manuk eye
motif are the bible, which is trapezoidal and surrounds the manuk eye. Manuk
eyes are usually egg-shaped, consisting of four points, which depicts chickens
being able to see in the four cardinal directions. The eye of the manuk is
located in the middle of the bible or trapezoid. The color of the manuk eye
motif can be combined with white, black and red.
Apart from Cibal, Lamba Leda and Ruis, this
weaving tradition is also found in several places, such as Lembor, Iteng,
Rahong, Kolang and other villages. In these areas, the weaving tradition
emerged from intermarriage, when a woman from a weaving family passed on the
weaving tradition to her husband's village. Apart from that, the economic
movement encouraged by European missionaries in the early 80s also encouraged
weaving training in several areas in Manggarai by bringing in professional
weavers from Cibal and Lamba Leda.
Todo weaving is a slightly different type
of weaving in Manggarai. The most distinctive characteristic that
differentiates Todo weaving from Songke weaving is the line pattern without
motifs. The general design of Todo weaving uses a basic red beaver combined
with black to form a pattern of parallel lines called sul (Cibal). Among
weavers and Todo people, this sarong is known as towe kemumu. However, among
the general public, this sarong is more commonly known as woven todo, which
refers to the name of Kampung Todo.
It is thought that the creation of Todo
weaving began in Todo village before spreading to surrounding villages and
Manggarai in general. In the past, Todo was a small kingdom formed by the Dutch
before Indonesia became independent. The Todo traditional village with various
stories about the influence of the Goa-Tallo Kingdom is also recorded in the
woven colors which are similar to traditional Sulawesi and Bima cloth.
Komentar
Posting Komentar