Ritus Pembagian Lingko

 

DARI UMA KE SAPO, DARI KEBUN KE PIRING MAKAN

 Beo'n One Lingko'n Peang



Menyebut lingko seperti memanggil kembali sebagian ingatan orang Manggarai tentang masa kecil yang telah lama dilupakan. Lingko mengantar ingatan yang samar-samar tentang orang- orang di kampung yang masih menjalin relasi akrab dan mesra dengan alam. Alam selalu menjadi sahabat yang bisa diajak bercengkerama setiap saat. Sebagai petani, orang Manggarai sangat dependensi pada alam. Sebab itu, adalah penting menjaga interaksi dengan alam, agar ia tetap harmonis dan terus menjadi sumber kehidupan.

Alam dan kehidupan orang Manggarai adalah dua komponen yang tak bisa dilepaspisahkan satu dengan yang lainnya. Kedekatan relasi antara alam dengan nenek moyang adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Ada banyak upacara dan ritus yang bisa menggambarkan relasi ini. Ada pula yang terejawantah dalam ungkapan puitis seperti beo'none lingko'n pe'ang yang bermakna antara kampung (ruang hidup) dan kebun ruang teritori) memiliki relasi yang saling menguatkan. Bagi orang Manggarai, dua wilayah ini sangat vital fungsinya dalam kehidupan sosial.

Uma lingko secara harfiah artinya kebun, tanah garapan, atau tanah ulayat. Lingko adalah salah satu syarat absahnya sebuah kampung. Satu kampung bisa berdiri hanya jika mempunyai lima bagian. Karena itulah, ungkapan beo'n one lingko'n peang menggambarkan kampung dan tanah ulayat sebagai satu kesatuan yang utuh.

Hal ini juga berkaitan dengan mata pencaharian orang Manggarai sebagai petani. Kehidupan orang Manggarai sangat tergantung pada hasil alam. Sebagai petani, orang Manggarai harus mempunyai lahan sebagai syarat mutlak untuk bekerja dan bertahan hidup.

Uma biasanya didapat berdasarkan pembagian lingko oleh tua teno yang ditunjuk oleh tua golo (kepala kampung). Pihak yang berhak mendapatkan pembagian lingko adalah warga kampung yang telah berkeluarga. Pembagian lingko ini ditandai dengan tente teno (menancapkan teno ke tanah). Sebatang kayu teno ditancapkan pada sebuah titik (lodok) yang merupakan pusat dari sebuah lingko.

Sebuah garis lingkaran dibuat mengitari kayu teno yang tertancap pada lodok. Pembagian uma dibuat dengan cara menarik garis dari lingkaran yang mengintari teno. Setiap orang mendapat ca atau sua moso (bagian), tergantung jumlah anggota dalam satu lingko yang dibagikan. Setiap moso (bagian) diukur dengan cara menempelkan jari telunjuk pada tanah dekat lingkaran yang mengintari lodok. Setelah semua anggota mendapatkan bagian yang sama, garis kemudian ditarik hingga ke bagian terluar dari lingko yang disebut cicing.

Cara pembagian tanah ulayat seperti ini merupakan cikal bakal bentuk ladang atau sawah yang menyerupai jaring laba-laba. Model sawah atau ladang yang menyerupai jaring laba-laba diperjelas dengan pembuatan galung (petak) di sawah dan banta Berasering) di ladang. Model sawah atau ladang berbentuk jaring laba-laba ini masih dipelihara dengan sangat baik dan banyak dijumpai di wilayah Manggarai. Salah satunya di area persawahan desa Poco Rutang Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Hamparan sawah berbentuk laba-laba terlihat indah dan menarik, terbentang menghijau sejauh mata memandang, terutama ketika padi berusia sekitar dua bulan. Pemandangan yang menyejukkan serta memanjakan mata setiap insan yang melihatnya.

Lingko yang sudah dibagi akan dibersihkan dan digarap oleh masing-masing pemiliknya secara bersamaan di bawah perintah tu'a Teno. Proses penggarapan lahan dimulai dengan upacara males. Pada saat acara males, semua orang, baik yang sudah tua maupun anak-anak yang masih kecil, beramai- ramai ke kebun. Hingga saat ini, upacara ini masih dilaksanakan sebagai tradisi dimulainya proses penanaman padi di Manggarai.

Nilai upacara males yang masih tersisa dalam orang Manggarai adalah suasana kebun yang menjelma taman bermain, bercanda, dan bercengkerama tanpa batas dengan alam. Pada saat upacara males, ayam dan babi dipotong sebagai persembahan kepada Mori Kraeng. Upacara males atau disebut juga upacara Paki Kina Dara Wini bermaksud untuk memohon kepada Mori Kraeng (Tuhan Allah) agar menurunkan berkat-Nya atas benih (wini) yang sudah siap ditanam. Juga agar semua usaha kelak mendapatkan hasil yang melimpah. Nenek moyang orang Manggarai yakin dan percaya bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir atas penyelenggaraan Mori Kraeng. Mori Kraeng pula yang akan menentukan hasil akan melimpah ataupun sebaliknya. Oleh karena itu, upacara males sangat penting dan wajib dilakukan pada setiap musim tanam dimulai.


Lingko Tradition

Mentioning lingko is like calling back some of the Manggarai people's memories of childhood that have long been forgotten. Lingko conveys vague memories about people in the village who still have a close and intimate relationship with nature. Nature is always a friend who can be chatted with at any time. As farmers, Manggarai people are very dependent on nature. Therefore, it is important to maintain interaction with nature, so that it remains harmonious and continues to be a source of life.

Nature and life of the Manggarai people are two components that cannot be separated from one another. The close relationship between nature and our ancestors is something that cannot be denied. There are many ceremonies and rites that can describe this relationship. There is also something that is manifested in poetic expressions such as beo'none lingko'n pe'ang, which means that the village (living space) and the garden, territorial space) have a mutually reinforcing relationship. For the Manggarai people, these two areas have a very vital function in social life.

Uma lingko literally means garden, cultivated land, or communal land. Lingko is one of the conditions for the validity of a village. A village can exist only if it has five parts. For this reason, the expression beo'n one lingko'n peang describes the village and communal land as one complete unit.

This is also related to the livelihood of the Manggarai people as farmers. The life of the Manggarai people is very dependent on natural products. As farmers, Manggarai people must have land as an absolute requirement to work and survive.

Uma is usually obtained based on the distribution of lingko by the Tua Teno appointed by the Tua Golo (village head). The parties entitled to receive lingko distribution are village residents who have families. The division of lingko is marked by tente teno (sticking the teno into the ground). A piece of teno wood is stuck in a point (lodok) which is the center of a lingko.

A circular line is drawn around the teno wood stuck in the lodok. The uma division is made by drawing a line from the circle surrounding the teno. Each person gets a ca or sua moso (share), depending on the number of members in one lingko being distributed. Each moso (section) is measured by placing your index finger on the ground near the circle surrounding the lodok. After all members get the same share, the line is then drawn to the outermost part of the lingko which is called cicing.

This method of dividing communal land is the forerunner to the form of fields or rice fields that resemble spider webs. The model of rice fields or fields that resemble spider webs is made clear by making galung (plots) in the rice fields and banta Berasering) in the fields. This model of rice fields or fields shaped like spider webs is still very well maintained and is often found in the Manggarai area. One of them is in the rice fields of Poco Rutang village, Lembor subdistrict, West Manggarai regency. The spider-shaped expanse of rice fields looks beautiful and attractive, stretching out green as far as the eye can see, especially when the rice is about two months old. A view that is soothing and pleasing to the eyes of everyone who sees it.

Lingko that has been divided will be cleaned and worked on by each owner simultaneously under tu'a Teno's orders. The process of cultivating the land begins with a male ceremony. During the midday event, everyone, both old and small children, flocked to the garden. Until now, this ceremony is still carried out as a tradition to start the rice planting process in Manggarai.

The value of the Malas ceremony that still remains among the Manggarai people is the atmosphere of the garden which becomes a playground, joking around, and chatting endlessly with nature. During the male ceremony, chickens and pigs are slaughtered as offerings to Mori Kraeng. The male ceremony or also called the Paki Kina Dara Wini ceremony aims to ask Mori Kraeng (God Allah) to send down His blessings on the seeds (wini) that are ready to be planted. Also so that all efforts will get abundant results. The ancestors of the Manggarai people believed and believed that everything began and ended with the organization of Mori Kraeng. Mori Kraeng will also determine whether the results will be abundant or vice versa. Therefore, the male ceremony is very important and must be carried out at the start of every planting season.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan