Tradisi Tapa Kolo (Tradisi Bakar Nasi Bambu)

Tradisi Tapa Kolo

Uma rana ‘kebun yang baru dibuka’ biasanya hanya ditanami tanaman jangka pendek, seperti tete ‘ubi’, latung ‘jagung’, woja/mawo ‘padi’, timung ‘mentimun’, dan ndesi ‘labu kuning’. Di antara tanaman ini, padi, jagung, dan ubi adalah tanaman utama yang selalu ada di setiap uma.

Sekeng/cekeng (musim tanam) berkisar antara September hingga awal Oktober, bertepatan dengan hujan pertama setiap tahun. Hujan pertama setiap tahun adalah pertanda sekeng sudah dimulai. Sekeng adalah musim menanam dan waktu untuk bekerja. Orang beramai-ramai ke kebun untuk bekerja dan menggarap tanah. Pada masa ini, biasanya hari-hari mereka habiskan di kebun.

Pada upacara pembukaan lahan baru, penanaman benih baru atau perayaan panen raya, orang Manggarai akan menikmati nasi kolo. Masakan dari dea laka 'beras merah' sebagai bahan utamanya. Beras yang digunakan merupakan beras pilihan dari padi ladang. Dahulu kala, beras merah hanya dihidangkan untuk menjamu tamu terhormat, orang-orang penting atau dipersembahkan bagi Raja. Beras merah akan dimasukkan ke dalam bambu berlapis daun enau untuk dibakar. Proses ini dikenal dengan sebutan tapa kolo.

Tradisi ini dilakukan untuk menyenangkan hati para leluhur yang konon katanya suka membuat dan memakan nasi kolo. Melalui persembahan ini, masyarakat Manggarai berharap para leluhur melindungi kampung dan kebunnya sehingga tidak terjadi hal yang fatal atau memalukan. Ritual tanpa adanya tapa kolo dianggap tidak membawa berkat.

Pembuatan nasi kolo dimulai dengan mempersiapkan bambu kecil yang tidak terlalu tua. Bambu tersebut kemudian dipotong kurang lebih 30 cm atau sesuai ukuran yang diharapkan. Setelah itu, bambu dibersihkan dan dialasi dengan daun enau muda agar nasi yang dihasilkan terbentuk dengan baik. Beras kemudian dimasukkan, disusul dengan santan, dan sedikit garam. Selanjutnya, bambu dibakar hingga air santan di dalamnya kering. Bagian samping bambu akan dibelah untuk mengambil hasilnya. Nasi kolo akan lebih nikmat ketika disantap dengan lomak (rebusan sayur dicampur kemiri yang telah dihaluskan atau kelapa parut).

 

Tapa Kolo Tradition

Uma rana 'newly opened gardens' are usually only planted with short-term crops, such as tete 'sweet potato', latung 'corn', woja/mawo 'rice', timung 'cucumber', and ndesi 'yellow pumpkin'. Among these plants, rice, corn and sweet potatoes are the main crops that are always present in every uma.

Sekeng/cekeng (planting season) ranges from September to early October, coinciding with the first rains each year. The first rain every year is a sign that Sekeng has begun. Sekeng is the planting season and time for work. People flock to the gardens to work and cultivate the land. During this time, they usually spend their days in the garden.

At ceremonies opening new land, planting new seeds or celebrating the harvest, Manggarai people will enjoy nasi kolo. A dish with dea laka 'red rice' as the main ingredient. The rice used is selected rice from field rice. In the past, red rice was only served to entertain distinguished guests, important people or offered to kings. The red rice will be put into bamboo covered with palm leaves to be burned. This process is known as tapa kolo.

This tradition is carried out to please the ancestors who are said to have loved making and eating nasi kolo. Through this offering, the people of Manggarai hope that their ancestors will protect their village and gardens so that nothing fatal or embarrassing happens. Rituals without tapa kolo are considered not to bring blessings.

Making kolo rice begins by preparing small bamboo that is not too old. The bamboo is then cut to approximately 30 cm or according to the desired size. After that, the bamboo is cleaned and covered with young palm palm leaves so that the resulting rice is well formed. The rice is then added, followed by coconut milk and a little salt. Next, the bamboo is burned until the coconut milk inside is dry. The side of the bamboo will be split to take the results. Nasi kolo will be more delicious when eaten with lomak (vegetable stew mixed with ground candlenuts or grated coconut).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan