Roko Molas Poco Manggarai

 



     Roko Molas Poco                     

                                                   Foto saat acara Roko Molas Poco 

Roko Molas Poco’ merupakan salah satu upacara yang sangat penting dalam adat istiadat orang Manggarai pada umumnya ketika pembangunan rumah adat atau rumah gendang baru di sebuah kampung. Umumnya, ‘Roko Molas Poco’ ditandai dengan perarakan kayu besar oleh warga masyarakat setempat yang nantinya kayu tersebut akan digunakan sebagai tiang utama atau yang dikenal dengan nama lokal ‘siri bongkok’ dalam struktur pembangunan rumah gendang orang Manggarai.

Tahapan Roko Molas Poco 

Upacara Roko Molas Poco selalu dilakukan dengan menempati seorang gadis cantik di atasnya. Perayaan tersebut berlangsung setelah  tokoh adat dari berbagai keturunan di gendang tersebut melakukan ritual yang disebut ‘Ace Cola’.  Ritual ini berlangsung saat warga gendang telah menemukan ‘haju mes’ . Salah satu jenis kayu berukuran besar dan lurus yang tumbuh di daerah pegunungan yang nantinya bakal digunakan sebagai tiang utama rumah Gendang. Ritual ‘Ace Cola’ ditandai dengan penancapan sebuah kapak berukuran besar ke kayu yang bakal dijadikan sebagai tiang utama. Sebelum ditancapkan, didahului dengan penyampaian maksud dan tujuan kedatangan dengan material adat berupa sirih pinang. “Saat sirih pinang diberikan maka disampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Kapak ditancapkan di kayu tersebut dengan perjanjian apabila dalam waktu tiga hari kapak yang ditancapkan itu jatuh, pertanda bahwa kayu tersebut tidak bisa digunakan sebagai tiang utama rumah gendang. Tiga hari kemudian, warga bersama tokoh adat pergi kembali ke tempat tersebut guna untuk melihat perjanjian yang dilakukan pada tiga hari sebelumnya.

Tahapan berikutnya yakni ‘tuluk pu’un, batu mbarun, kaer waken”, karena kapak yang ditancapkan tiga hari sebelumnya tidak terlepas sehingga kayunya bisa ditebang dan dibersihkan. Setelah semuanya sudah berhasil dibersihkan maka warga boleh datang membawa kayu tersebut dalam kurun waktu lima hari kemudian.  Kayu tersebut di bawah menuju Rewa. Sebelum kayu tersebut diangkat, ada sebuah ritual juga yang tidak kalah penting untuk dilakukan, yakni adak teti rantang lut agu lorong le mori golo atau sebuah ritual agar para penghuni hutan yang lain juga tidak ikut bersama-sama ke kampung. Sesampainya di Rewa, maka acara yang dilakukan yakni adak wa’u. Setelahnya, daun yang dibawa pada saat bersamaan dengan kayu utama siri bongkok tersebut diletakkan di atas tiang utama. Titik start Roko Molas Poco dimulai dari ‘Rewa Beo’ (perbatasan Kampung)  Pada titik ini, seorang gadis dibiarkan duduk di atas kayu tersebut sambil memegang sebuah payung selayaknya sebagai seorang ratu yang harus dilindungi dan tidak dibolehkan untuk disinari matahari.


Ritual mbe kondo

Para masyarakat berada dikiri dan kanan kayu tersebut agar menggotongnya menuju halaman rumah gendang sambil diiringi dengan ronda. Sebelum sampai di halaman Rumah Gendang banyak ritual yang dilakukan yakni seperti saat masuk ke ‘Pa’ang’ atau pintu gerbang kampung. Saat sampai di pintu gerbang kampung (pa’ang), acara yang dilakukan adalah kapu agu naka dengan tujuan agar seluruh isi kampung tahu dan tidak ada babang agu bentang atau teguran dari leluhur di kampung tersebut. Setelah ritual tersebut dilakukan, maka warga melanjutkan perarakan menuju halaman rumah Gendang. Saat sampai di halaman rumah gendang, dilakukan ritual oke ceki  dan gerep ruha.

Makna Roko Molas Poco

Pemilihan hewan berupa kambing atau ‘mbe kondo’  atau hewan lain sebagai hewan persembahan dalam upacara ‘Roko Molas Poco tergantung tradisi adat setempat

Sedangkan warna kondo adalah warna merah kekuning-kuningan yang memiliki makna positif dan kerap dipakai pada saat acara-acara syukuran dilakukan. Salah satu nama untuk Manggarai adalah Nuca Lale. Karena banyak ditumbuhi dengan pohon lale. Lale merupakan simbol tanah yang subur. Karena itu, warna lale adalah warna syukuran secara umum. Kalau ayamnya disebut manuk lale, kalau kambing namanya adalah mbe kondo, babi atau kerbau disebut ela rae dan kaba rae. Jadi warna merah kekuning-kuningan itu simbol emas.

Upacara Roko Molas Poco  sama seperti saat seseorang meminang gadis. Oleh karena itu, yang dibawa ke kampung bukanlah benda mati melainkan membawa sumber kehidupan.

“Bagi orang Manggarai, air adalah simbol jiwa yang disebut wakar. Karena itu, orang Manggarai sebelum dikandung selalu ada mimpi timba air. Makanya tiap kampung di Manggarai, wajib ada wae barong. Ia juga menjelaskan bahwa dalam proses upacara ‘Roko Molas Poco’ terdapat banyak sekali simbol yang digunakan seperti penggunaan beberapa jenis daun yang diyakini sebagai energi kehidupan bagi masyarakat di sana.

Molas Poco) adalah ibu. Sebagai seorang ibu ketika pulang rumah, dia seolah-olah datang dari kampung baru, datang dari  kebun dan membawa semua makanan yang menghidupkan anak. Jadi, yang dibawa itu  labe, ara, kilit, rempo, kuncang, ndusuk. Itu semua jenis daun-daunan yang ketika kita kelaparan atau tersesat di hutan itu kita bisa makan. Itu juga makanan bagi hewan yang ada di hutan. Selain itu, yang dibawa bersama adalah obat yang dikenal dengan sebutan runus agu renggong.

Runus dalam mitologi merupakan simbol wanita pertama dulu. Wela Runus dan Kambu Lawak merupakan Ibu pertama dan bapak pertama menurut mitologi orang Manggarai. Akhirnya kita juga pergi mengambil ranting-rantingnya dan akar karena yang kita bawa bukan kayu mati melainkan pohon.

Malam sebelum upacara ‘Roko Molas Poco’ dilakukan, didahului dengan acara pande nggelis weki (upacara pemurnian diri dari berbagai macam belenggu masa lalu). Ritual ini dipercaya sebagai salah satu upaya memutus mata rantai terulang kembalinya kejadian masa lalu di Gendang Tere seperti ‘bowok haju’. Dalam kepercayaan orang Manggarai, ‘bowok haju’ dianggap sebagai ‘pau one ngaung, mbelos one lewo’ yang berarti keguguran.


                                                                                     Sumber: VoxNTT.com


Roko Molas Poco



Roko Molas Poco' is a very important ceremony in the customs of the Manggarai people in general when building a new traditional house or drum house in a village. Generally, 'Roko Molas Poco' is marked by a large wooden procession by local residents which will later be used as the main pillar or what is known locally as 'siri bongkok' in the structure of the Manggarai people's drum house construction.

Stages of Roko Molas Poco

The Roko Molas Poco ceremony is always carried out by placing a beautiful girl on top. The celebration took place after traditional figures from various descendants in the drum performed a ritual called 'Ace Cola'. This ritual takes place when the gendang residents have found 'haju mes'. A type of large, straight wood that grows in mountainous areas which will later be used as the main pillar of the Gendang house. The 'Ace Cola' ritual is marked by sticking a large ax into the wood that will be used as the main pole. Before being plugged in, it is preceded by conveying the purpose and purpose of the arrival with traditional materials in the form of betel nut. “When the betel nut is given, the purpose and purpose of the visit is conveyed. The ax was stuck in the wood with an agreement that if within three days the ax that was stuck fell, a sign that the wood could not be used as the main pole for the drum house. Three days later, the residents and traditional leaders went back to the place to see the agreement made three days earlier.

The next stage is 'tuluk pu'un, batu mbarun, kaer waken", because the ax that was stuck three days before did not come off so the wood could be cut down and cleaned. After everything has been successfully cleaned, residents can come and bring the wood within five days. The wood is below towards Rewa. Before the wood is removed, there is a ritual that is no less important to carry out, namely adak teti rantang lut agu aisle le mori golo or a ritual so that other forest dwellers do not come together to the village. Arriving in Rewa, the event held was adak wa'u. After that, the leaves that were brought at the same time as the main wood of the humpback series were placed on the main pole. The starting point for Roko Molas Poco starts from 'Rewa Beo' (village border). At this point, a girl is left sitting on the wood while holding an umbrella like a queen who must be protected and not allowed to be exposed to the sun.





The people were on the left and right of the wood to carry it to the yard of the drum house while being accompanied by patrols. Before arriving at the Gendang House yard, many rituals are carried out, such as when entering the 'Pa'ang' or village gate. When you arrive at the village gate (pa'ang), the event that is carried out is kapu agu naka with the aim that the entire village will know and there will be no babang agu span or reprimand from the ancestors in the village. After the ritual was carried out, the residents continued the procession to the courtyard of Gendang's house. When you arrive at the yard of the drum house, the rituals of oke ceki and gerep ruha are performed.

Meaning of Roko Molas Poco

The choice of animal in the form of a goat or 'mbe kondo' or other animal as an animal offering in the 'Roko Molas Poco' ceremony depends on local traditions.

Meanwhile, the color of the condo is yellowish red which has a positive meaning and is often used during thanksgiving events. One of the names for Manggarai is Nuca Lale. Because it is overgrown with lale trees. Lale is a symbol of fertile land. Therefore, the color of lale is the color of thanksgiving in general. If the chicken is called manuk lale, if the goat is called mbe kondo, if the pig or buffalo is called ela rae and kaba rae. So the yellowish red color is a symbol of gold.

The Roko Molas Poco ceremony is the same as when someone proposes to a girl. Therefore, what is brought to the village is not an inanimate object but a source of life.

“For the Manggarai people, water is a symbol of the soul called wakar. Because of this, Manggarai people always dream of drawing water before they are conceived. That's why every village in Manggarai has to have wae barong. He also explained that in the process of the 'Roko Molas Poco' ceremony there were many symbols used, such as the use of several types of leaves which are believed to be life energy for the people there.

Molas Poco) is the mother. As a mother, when she returns home, it is as if she has come from a new village, coming from the garden and bringing all the food that brings life to the child. So, what was brought was labe, ara, kilit, rempo, kuncang, ndusuk. These are all types of leaves that when we are hungry or lost in the forest we can eat. It is also food for animals in the forest. Apart from that, what was brought along was a medicine known as runus agu renggong.

Runus in mythology is a symbol of the first woman. Wela Runus and Kambu Lawak are the first mother and first father according to Manggarai people's mythology. Finally, we also went to pick up the branches and roots because what we brought was not dead wood but trees.

The night before the 'Roko Molas Poco' ceremony was held, it was preceded by a pande nggelis weki (ceremony to purify oneself from various kinds of shackles of the past). This ritual is believed to be an effort to break the chain of recurrence of past events in Gendang Tere such as 'bowok haju'. In Manggarai people's beliefs, 'bowok haju' is considered as 'pau one ngaung, mbelos one lewo' which means miscarriage.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ODW Gua Batu Cermin

Situs Prasejarah Liang Verhoeven

Tete Kilu dan Kenangan yang Terlupakan